Jumat, 10 Mei 2013

Bunga


Pada suatu masa beberapa tahun lalu, gue pernah naksir cewek sekampung. Sebut saja namanya Bunga tapi ga pake Citra Lestari. Kala itu dia baru aja lulus kedokteran di Jakarta.


Wanita cantik sedunia



Ga terlalu cantik sih tapi ga malu- maluin kalo cuma buat digandeng ke mall apalagi ke kondangan. Body-nya semok sadis seperti gitar spanyol bodol. Udah gitu bokapnya tajir biadab, masuk daftar 547 orang terkaya sekampung. Sawahnya luas sapinya banyak mobilnya delapan istrinya tiga. Bayangin deh!


Begitu Bunga udah balik dari ibu kota negara, cowok-cowok kampung langsung sibuk merenovasi diri buat modal mendekati Bunga. Gue juga, walau dengan modal yang ga seberapa pantas untuk dibanggakan, tetap ga mau kalah. Maju terus pantang malu. Jaman penjajahan aja, para pahlawan cuma bermodal bambu yang diruncingin, ga gentar kok melawan kompeni yang pake bedil.


Singkat status, setelah pedekate alakadarnya, gue langsung nembak Bunga. Simpel aja. Ga pakai cincin, ga pake seiket kembang, ga didahului pembacaan puisi, ga disiarin langsung di tipi. Lokasinya pun amat sangat simpel: di sebelah kandang sapi! Bukan di restoran mewah bercahayakan lilin kecil apalagi di kapal pesiar.


"Selama di Jakarta, kamu makin sesuatu deh?" Gue memulai pembukaan acara katakan cinta.


"Alhamdulillah yah? Tapi maksudnya apa ya?" Bunga ga ngerti.


"Maksud aku, kamu makin bahenol, makin manis, makin imut. Aku makin gemes. Mau ga kutendang?"


"Ihh apaan sih! Ya enggaklah!"


"Ditendang ga mau. Mm... Tapi kalo jadi pacarku mau kan?"


Peluru udah ditembakan. Target tampak melongo dongo. Dalam hati gue berdoa semoga peluru cinta gue tadi ga salah sasaran mengenai sapi.


"Aku cinta sama kamu, Bung..


Peluru kedua. Untuk sesaat Bunga terhenyak. Mulutnya bergerak-gerak seperti mau ngomong sesuatu tapi ga sanggup. Mungkin dia syok, seumur hidupnya dia ga pernah menyangka bakal ditembak oleh lelaki terganteng di seantero desa ini.


"Ka.. Kamu serius?" Tanya Bunga dengan suara terbatu-bata.


"Serius!"


"Serius banget apa serius aja?"


"Serius banget!"


"Serius banget nget nget nget?!"


"Iya Bunga. Banget sejuta!"


"Baiklah. Kalo emang bener2 serius, yuk ke kamarku?"


"Hah? Ke kamar? Ngapain?!"


"Aku mau tunjukin sesuatu, ihihihi..


Tanpa permisi Bunga langsung meraih tangan gue dengan mesra. Owh... Indahnya dunia. Rumput2 seakan menjadi bunga. Kandang sapi bagaikan istana.Bunga menarik tangan gue, dibawanya pergi menjauh dari istana eh kandang sapi, menuju rumahnya.


"Ayo ke atas, kamarku di lantai 3" Kata Bunga tersenyum sedikit genit.


"Beneran ke kamar nih?" tanya gue deg-degan. Gue merasa sebentar lagi keperjakaan gue bakal hilang.


Bunga terus menuntun gue naik. Sampai di lantai 3, Bunga membukakan pintu kamar untuk gue. Kreekk..


"Silahkan masuk... " Kata Bunga dengan manisnya.


Suer?! Gue masih belum sepenuhnya percaya bisa berduaan sama Bunga, di kamarnya yang wangi, serta ranjang yang bagus bersih dan pasti empuk itu. Gue bentur-benturin kepala ke dinding. Dug! Dug! Dug! Sakit Bay?! Berarti ini bukan mimpi?


"Udah di kamar nih, trus...?" Kata gue malu- malu kucing garong, makin deg-degan, dalam benak udah tergambar adegan ariel luna maya.


"Zuki, kamu ke lemari itu deh bentar..


"Emang ada apa?" Tanya gue sambil melangkah gagah ke lemari.


"Jadi gini, di lemari itu kan ada cerminnya? Nah, seharusnya sebelum nembak gue , lo bercermin dulu?! Lo tuh siapa?! Ngaca woey! NGACA!!" banting beha


Gue: depresi dua bulan

3 komentar

ijin ngakak juk. . !!gkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgkgk. . . .

seperti biasa. gw ngakak glesotan. hahahahaha

bang Zucky gilak gilak gilaak.. suka. :)

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)
EmoticonEmoticon