Senin, 31 Maret 2014

Jangan Tunggu Sampai Dilempar Batu


Di sebuah gedung perkantoran mewah 8 tingkat, terdapat seorang cleaning service muda sebut saja namanya Sudrun Pattinson. Jenis kelamin laki-laki dan baru aja sarapan bubur. Umurnya kira-kira 25 tahun. Ia adalah pejabat senior cleaning service di lantai satu. Sudah cukup lama Sudrun bekerja di sana kurang lebih 40 tahun. Dalam hati Sudrun sudah bete banget dengan pekerjaannya tersebut, dari dulu kariernya segitu-gitu mulu. Ia ingin jabatannya dinaikkan. Selama ini ia hanya cleaning service lantai satu. Ia berharap jabatannya bisa naik menjadi cleaning service lante 2. Pokoknya pengen jadi atasan. Pengen banget! Sudrun lupa, ia bete dengan pekerjaannya, sementara di banyak tempat ribuan orang justru bete karena tak kunjung dapat kerjaan. Lagipula jadi 'atasan' itu ga enak, digantung di pasar-pasar, harganya juga paling 20 rebu nego. Haha.


Suatu pagi, selagi Sudrun terlena menyapu lantai, bos-nya yang berada di lantai 19 memanggilnya dengan lembut dan sopan, akan tetapi Sudrun ga mendengar panggilan tersebut. Dipanggilnya Sudrun sekali lagi, kali ini dengan teriakan, tapi barangkali karena berjarak cukup jauh dan keasyikan berkerja, Sundrun ga mendengar atau entah pura-pura ga dengar. Lalu atasannya menjatuhkan uang logam ke hadapan Sudrun. Sudrun memungut koin tersebut, memasukannya ke saku, lalu meneruskan pekerjaannya tanpa mau menengok ke atas. Merasa dikacangin, si bos kemudian menjatuhkan uang 50.000. Mendapat uang sebanyak itu, dengan girangnya Sudrun mengambil uang tersebut dan langsung dimasukkan ke kantong, lalu kembali sibuk berkerja. Sudrun ga mikir dari mana uang itu berasal. Akhirnya, sang atasan mengambil batu kecil, dilemparkan kepada Sudrun dan sukses mengenai kepalanya. Pletak! Begitu bunyinya. Merasa kesakitan, barulah Sudrun menengok ke atas.


Udah. Anggap aja lucu.


Cerita tadi memang bukan cerita lucu, itu hanya semacam ilustrasi, yang jika mau merenungkannya, bukankah yang seperti itu kerap terjadi pada kehidupan kita?


Tuhan seringkali menyapa kita dengan lembut, tapi kita terus saja sibuk dengan urusan-urusan duniawi. Kita dianugerahi kesehatan, dijatuhi rizeki, diberi udara gratis, dan berbagai limpahan rahmat lainnya, tapi kita sering lupa untuk sejenak bersyukur, yang membuat kita semakin jauh dari-Nya. Nah, di saat diberi cobaan, di saat merasa kesakitan, barulah kita ingat dan menengadah ke di atas.

batu bagus


Sungguh, sesungguhnya Tuhan itu sangat mencintai kita. Cobaan-cobaan kecil yang terjadi pada kita adalah cara Tuhan agar kita mau sejenak menengadah ke atas dan ingat kepada-Nya. Oleh karena itu, mari semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, supaya kita bisa mendengar lembutnya panggilan-panggilan-Nya. Mari sesering mungkin mengingat-Nya, sebelum Ia melempar batu kecil kepada kita. Dan jangan bandel, segeralah perbaiki diri ketika kita dilempar batu kecil, jangan tunggu sampai dilempar dengan batu yang lebih besar.


Ga bermaksud menggurui ya. Cerita ini juga mungkin udah basi, teman-teman mungkin pernah mendengar dengan versi penyampaian yang berbeda. Tapi tentu ga ada salahnya untuk saling mengingatkan, karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa.


#SalamTampan @zuckici

2 komentar

ººHeffri Hutapeaºº delete 5 April 2014 01.16

iyah

Arizuna Zukirama delete 11 April 2014 21.33

@ººHeffri Hutapeaºº, :)

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)
EmoticonEmoticon