Senin, 06 April 2015

Hanya di Aceh Aku Menemukan Hal-hal Unik Ini

Meskipun bukan keturunan asli bangsa Aceh, tapi karena lahir di Aceh, menjalani masa kecil di Aceh, menyelesaikan pendidikan S2 (SD+SMP) juga di Aceh, masuk akal jika akhirnya aku tidak bisa ngelupain Aceh dan akan selalu bangga dengan provinsi paling barat Indonesia itu.



Aceh, alias Nanggroe Atjeh Darusalam, alias tanah rencong, alias Serambi Mekah, entah kalau ada masih ada alias-alias lainnya, adalah daerah yang menurutku bermasyarakat ramah, kental dengan nuansa islami, berudara tidak terlalu panas, serta memiliki banyak sekali pemandangan alam yang bagus-bagus. Dengan kondisi seperti itu, sebenarnya aku sangat kerasan dan ingin hingga tua tinggal di sana. Tetapi berhubung tepat sehabis aku SMP, keluarga eksodus ke provinsi Riau, mau tak mau suka tak suka aku harus ikut.

Tapi meskipun sekarang sudah menetap di Riau, sesekali kalau ada uang dan waktu luang, saya masih pulang ke Aceh. Bukan hanya ke Aceh, demi mencari kebenaran saya juga kerap berpergian ke banyak tempat seperti ke Lampung, Padang, Bukitinggi, Blitar, Surabaya, Banjarmasin, Banjarbaru, Tabalong, Indonesia dan beberapa daerah lainnya. Dan salah satu hasil dari keluyuran ke berbagai tempat tersebut adalah, aku jadi tau, bahwa ternyata hal-hal berikut ini, tidak aku temukan selain di Aceh.

Mobil labi-labi

Di dunia atau paling tidak di Asia Tenggara, mungkin hanya di Aceh ada mobil dengan tampilan seperti ini. Pertamanya ini hanyalah mobil pick up bak terbuka. Setelah diedit sana sini dan ditambahi ini itu, maka jadilah mobil labi-labi namanya. Tempat duduk penumpang saling berhadap-hadapan kayak orang mau ijab kabul. Kelasnya setingkat angkot, bedanya jika angkot hanya melayani rute dalam kota, di Aceh mobil labi-labi siap mengantar penumpang antar kota antar kabupaten. Saya pernah naik labi-labi dari Jeuram, ibu kota kabupaten Nagan Raya, sampai ke Meulaboh, ibu kota kabupaten Aceh Barat. Padahal jarak dari Jeuram ke Meulaboh itu cukup jauh. Sama kayak jarak dari Meulaboh ke Jeuram.

Di masa jayanya, armada labi-labi merupakan angkutan umum paling populer di provinsi Aceh. Sayangnya, dengan semakin mudahnya masyarakat memliki kendaraan pribadi, mobil labi-labi semakin kehilangan konsumen. Sudah jarang orang mau naik labi-labi jika berpergian. Masyarakat lebih memilih naik motor ataupun mobil pribadi. Makanya mobil ini beredarnya sudah tidak sebanyak dulu. Bahkan diprediksi, dalam 500 tahun ke depan mobil labi-labi sudah punah dari jalanan-jalanan di Aceh.

Kopi Saring

Kopi di mana-mana memang ada. Tapi hanya di Aceh, saya melihat kopi hitam disajikan dengan cara berbeda. Disaring berkali-kali hingga menghasilkan kopi yang benar-benar tanpa ampas. Di warung kopi, sambil menunggu kopi pesanan, kita bisa menonton atraksi sang chief dalam menyaring kopi. Cangkir di tangan kanan, saringan di tangan kiri. Cangkir besar berisi kopi yang telah diseduh diangkat tinggi, lalu dituangkan ke saringan, kemudian gantian saringan diangkat tinggi, lalu cangkir tadi menadah air kopi yang mengucur dari saringan. Begitu terus berkali-kali sampai kopi siap dihidangkan. Dan rasanya... Yummy. Beda banget, tidak terasa seperti es campur.

Di Aceh banyak sekali warung kopi saring seperti ini. Terutama di kota-kota. Hampir tiap beberapa meter ada warung kopi saring. Penikmatnya dari semua kalangan. Kalau di daerah-daerah lain penyuka kopi hitam didominasi oleh orang-orang tua. Di Aceh, dari anak SMA, mahasiswa, pejabat, polisi, tentara, rakyat biasa, raja-raja, semuanya betah kongkow-kongkow di warkop menikmati kopi saring. Sambil ngobrolin topik-topik lagi hangat ataupun sambil nonton bola.

Kopi Gelas Terbalik

Hal lain yang hanya aku temukan di Aceh adalah kopi gelas terbalik. Kopi ini disajikan dengan posisi gelas terbalik. Meski terbalik, tidak perlu kuatir kopinya akan tumpah, sebab di bawah mulut gelas dialasi piring kecil. Cara meminumnya adalah disedot pake pipet. Jangan pake selang.

Di Aceh sendiri penyedia kopi gelas terbalik tidak sebanyak kopi saring. Jadi agak susah nyarinya. Tapi aku lumayan sering menikmati kopi gelas terbalik di tepi pantai Ujung Karang, Meulaboh. Sore-sore, sambil menikmati senja serta gedebur ombak samudera Hindia.

Kopi gelas terbalik ini enaknya enak banget, apalagi kalo dinikmati segelas berdua bersama yang tersayang,  sambil senyum-senyum saling pandang dan gigit-gigit pipet. Pret!

Makan Sirih

Di berbagai tempat lain mungkin banyak juga orang makan sirih. Bedanya, jika daerah lain yang suka sirih mungkin hanya nenek-nenek, ataupun kalo yang masih muda memakai sirih ketika sudah dalam bentuk sabun. Sementara di Aceh, tua muda baik laki-laki ataupun perempuan, banyak yang suka makan sirih. Malah bagi yang sudah suka banget, makan sirih sudah seperti cemilan sehari-hari.  Rasanya enak dan katanya baik banget untuk kesehatan dan saya percaya itu.

Di Aceh, daun sirih yang sudah siap dikonsumsi, yang sudah diracik dengan buah pinang serta bumbu-bumbu lainnya, banyak di jual di warung-warung tepi jalan. Harganya pun tidak mahal. Setiap di Aceh, saya termasuk orang yang doyan makan sirih. Meskipun beberapa memandang makan sirih itu jorok, aku cuek aja. Toh masih lebih baik makan sirih, ketimbang makan temen apalagi makan gaji buta.

Dulu pertama kali coba, rasanya pahit gak enak dan bentar-bentar ngeludah, sudah begitu ludah jadi merah kayak drakula abis ngisap darah. Tapi setelah berkali-kali mencoba, saya malah jadi nagih dan tidak meludah-ludah lagi. Telan semua. Bahkan setiap pulang dari Aceh, saya selalu membeli sirih yang sudah siap dikonsumsi untuk dibawa pulang.

Warung Makan

Jika di daerah lain ketika masuk ke warung makan, siklusnya adalah kita langsung menuju meja yang kosong, lalu ada pelayan datang untuk menindaklanjuti apa yang mau kita pesan, lalu tidak lama kemudian pelayan datang lagi menyuguhkan pesanan.

Di warung-warung makan Aceh hampir tidak seperti itu. Di sana, kita mengambil sendiri apa yang ingin kita makan layaknya di rumah sendiri. Bukan tidak dilayani tapi memang begitulah tradisinya. Begitu masuk warung makan, kita mengambil piring sendiri, menciduk nasi sendiri, mangambil lauk pauk sendiri, dan itu terserah kita mau mengambil berapa banyak. Nanti kalau pengen nambah kita juga bebas mengambil sendiri. Untuk nasi dan sayur, mau makan sedikit atau banyak harganya sama. Kecuali untuk lauk ikan, kalau mau nambah akan dikenai biaya per potong.

Ketika Seseorang Dipanggil

Biasanya, ketika kita memanggil seseorang orang tersebut akan menjawab "Iya," atau "Apa?" Hanya di Aceh, meskipun tidak selalu, tapi saya cukup sering melihat seseorang menjawab panggilan dengan kata "Tuan..."

Misalnya memanggil Afika, "Afika," Maka Afika akan menjawab, "Tuan..." Misalnya lagi, suami memanggil istrinya. "Sayang..." Maka sang istri dengan mesranya menjawab, "Tuan..." Soswit.

Apapun sepeda motornya, Honda namanya

Iya begitu. Tidak peduli motor kamu Kawasaki, Suzuki, Ducati, Jialing, KTM, Bajay, dan lain sebagainya, di Aceh tetap disebut Honda. Bengkelpun 'bengkel honda' namanya walaupun di dalam bengkel tersebut segala pabrikan motor ada. Pokoknya beruntung banget pabrik Honda. Dapat promosi gratis dari mulut ke mulut. Dan kalo aku tidak salah ingat, justru kalau mobil, di Aceh disebutnya 'motor'.

Demikian hal-hal unik yang tidak aku temukan selain di Aceh. Tentunya masih banyak hal-hal unik lain yang mungkin aku lupa ataupun belum tau. Mohon ampun jika ternyata ada hal-hal yang salah dalam tulisan saya ini. Salam. :)

*****

Artikel Lainnya: Ayo Berkunjung Ke Lipat Kain, Kota Khatulistiwa Yang Terlupakan

17 komentar

kopi saring pernah liat waktu di bandung ada kedai yang jual
tapi kalo kopi gelas terbalik, seumur2 belom pernah nemuin mas :)

wah,, keren nih postingannya. tentang aceh yang aku sendiri gak tau sama sekali ada hal unik apa aja d aceh. btw, di banjar. aku pernah lihat mobil seperti mobil labi-labi itu. tapi lupa namanya. dia juga ngantar antar kabupaten dan antarkota. mungkin namanya aja yang beda kali ya..

oya, salam kenal sesama blogger ya.. main-main juga ke blogku. ada tulisan terbaruku hari ini. thanks

http://fathur1453.blogspot.com/2015/04/siul-siul-burung-pagi.html

Buat sendiri saja, Mas. Caranya: bikin kopi kayak biasanya, siapkan piring kecil, lalu balikkan gelas kopi tadi di atas piring. Lalu tinggal hisep pake pipet. :D

Iya mungkin namanya aja yang beda. Di Aceh dinamakan labi-labi akibat terinspirasi sejenis binatang kura-kura bernama labi-labi. Mobil labi-labi mengambil filosofi cara jalan kura-kura itu, biar lambat asal selamat. :)

Terima kasih atas pujian2 dari anda semua...
saya mewakili dari rakyat aceh..
sekali lagi saya ucapkan....
teurimeung geunaseh untuk semua nya...
..
SALEUM ANEUK NANGGROE

kalau untuk sepeda motor,,, sumbar dan riau pun sama bang! HONDA

Iya, yah. Di beberapa daerah di Riau ada yang nyebutnya kereta. :)

Kalo dibali sama bang
Motor juga dibilang honda
Kalo mobil dibilang motor gede
Entah kalo moge ?
Hehehehe

Wah.. Ternyata banyak juga daerah lain yang nyebut sepeda motor merek apa aja dengan sebutan Honda. Kukira cuma di Aceh saja...

kayaknya banyak sesamaan nama di daerah aceh dengan pontianak. kalau mobil ya mobil sedangkan labi-labi seperti kura-kura, sementara kopi saring juga banyak di daerah gajah mada pontianak, terus yang menarik, apapun motornya tetap aja namanya honda....hahahaaaa

Di aceh, apapun detergen nya, rinso namanya ;)

Satu lg, labi labi di medan jg ada. Namanya sudako. Tp sekarang sudah hampir punah. :(

ayo yang merasa terlahir di Aceh harus merasa bangga, sewaktu awal kemerdekaan rakyat aceh bersama-sama menyumbangkan hartanya untuk membeli pesawat buat kepentingan repoblik Indonesia yang menjadi pertanyaan mengapa rakyat aceh mau, jawabannya sederhana rakayat aceh memiliki cinta kasih inilah yang disebut rakyat yang istimewa

kalo ga ada isu agama nya mungkin aceh bisa menjadi tempat yg indah ya

Aceh.
Aceh itu unik lho.
Kalo main ke aceh jngan lupa singgah di gunung gruete klo gk salh tmpatnya.
Trus di kaki gunung gruete.

Sayangnya.. labi labi sekarang mulai tinggal kenangan kan ya? :)

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)
EmoticonEmoticon