Jumat, 14 Agustus 2015

Momen Lebaran: Belajar Dari Kisah Hidup Bang Syukur

Momen Lebaran Lebih Baik
Kakek Johan, tetanggaku, mempunyai seorang anak angkat bernama Syukur. Entah kapan tepatnya Bang Syukur menjadi anak angkat Kakek Johan, yang jelas sejak sekitar 4 tahun lalu, setiap hari libur Bang Syukur kerap berkunjung dan menginap ke rumah Kakek Johan.

Bang Syukur bukan asli orang Lipat Kain. Dia berasal dari daerah Ujung Batu, kabupaten Rokan Hulu. Dari sana ia merantau dan bekerja di pabrik kelapa sawit di Lipat Kain, kampungku. Beberapa perantau memang terkadang seperti itu, mencari orang tua angkat di perantauan.

Tiga tahun lalu saat baru-baru mengenalnya, dia mengaku lahir tahun 1979. Itu berarti usia Bang Syukur saat ini sudah 36 tahun. Dan di usia yang sudah mendekati kepala empat itu, dia belum juga menikah.

Sebenarnya aku dan Bang Syukur tidak begitu akrab. Hanya sekedar kenal karena kebetulan ia anak angkat tetangga. Tapi meski tidak begitu akrab, sekali waktu jika kami ngobrol bisa sampai larut malam. Bang Syukur tidak canggung membicarakan banyak hal kepadaku. Dia banyak bercerita pengalaman-pengalaman hidupnya. Termasuk persoalan pribadinya kenapa sampai sekarang belum juga menikah.

Dari ceritanya aku tahu dulu pada usia 24 tahun, Bang Syukur pernah menjalin cinta dengan gadis di kampungnya. Dia sangat mencintai gadis tersebut, dia rela berkorban banyak demi gadis itu dan ingin menikahinya. Tapi malang, suatu hari Bang Syukur mendapati gadisnya itu diam-diam menjalin cinta dengan pria lain. Bang Syukur sangat kecewa dan sakit hati sekali.

Untuk melupakan sakit hatinya, Bang Syukur sampai minggat ke Batam dan tidak pernah pulang selama 8 tahun. Baru di tahun 2011 dia pulang, itu pun hanya sebulan kemudian kembali merantau ke berbagai tempat tapi masih di sekitaran propinsi Riau. Dan selama empat tahun terakhir ini, ia bekerja di pabrik kelapa sawit di kampungku.

Selain dengan gadis di kampungnya tadi, ia juga bercerita sudah berkali-kali gagal membawa hubungan ke jenjang yang lebih serius dengan gadis-gadis yang dipacarinya. Parahnya Bang Syukur yang paling kerap menjadi pihak yang ditinggalkan. Kakek Johan pun pernah berupaya mencomblanginya dengan gadis di kampung sini, tapi entah tidak satupun yang sukses berakhir di pelaminan. Pernah juga Bang Syukur berpacaran dengan seorang perempuan Medan yang dikenalnya lewat handphone, tapi saat didatangi jauh-jauh ke Medan, cewek tadi malah langsung menolak tidak mau lagi melanjutkan hubungan.

Terkadang kasihan jika aku mengingat kisah-kisah cintanya. Mungkin karena sejarah cintanya yang pahit-pahit itu, Bang Syukur terlihat seperti sudah pasrah akan jodohnya. Ia tidak pernah lagi memperdulikan wanita. Hari-harinya disibukkan dengan kerja, kerja dan kerja. Mencari jodoh di usia 36 tentu memang bukan perkara mudah.

Selama aku mengenalnya, satu hal yang mengherankan adalah setiap lebaran Bang Syukur tidak pernah mudik lebaran. Dari 3 lebaran yang sudah-sudah, berturut-turut Bang Syukur merayakan di rumah Kakek Johan. Padahal jarak ke kampungnya tidak terlalu jauh, hanya 3 - 4 jam saja dengan menggunakan sepeda motor.

Walaupun tidak pernah mudik lebaran, bukan berarti Bang Syukur tidak pernah pulang sama sekali layaknya Bang Toyib. Dia sudah beberapa kali pulang, tapi ia melakukannya pada hari-hari biasa, bukan pada hari-hari raya. Biasanya ia pulang kampung pada sabtu siang setelah selesai kerja, menginap satu malam di rumah orang tuanya, untuk kemudian pada minggu sore kembali lagi ke Lipat Kain.

Begitu juga pada lebaran ini, ia sempat memperlihatkan gelagat tidak ingin mudik lagi. Buktinya pada kamis siang sehari sebelum Idul Fitri, di saat karyawan-karyawan lain sudah mudik, Bang Syukur justru dengan santainya datang ke rumah Kakek Johan. Membawa sekardus minuman kaleng dan beberapa bungkus kue kering. Setiap lebaran dia memang selalu membelikan Kakek Johan minuman dan jajanan untuk membantu suguhan lebaran.

Kebetulan siang itu aku juga sedang berada di rumah Kakek Johan.

"Lebaran ini kamu tidak pulang kampung lagi?" tanya Kakek Johan.

"Tidak, Pak. Saya dapat tugas jaga perumahan dari perusahaan," jawabnya enteng.

"Kalau kamu memang berniat pulang kan bisa menolak tugas itu?"

"Sayang lah, Pak. Gajinya dua kali lipat kalau masuk kerja di hari lebaran. Lagipula sebulan lalu saya baru pulang," jelas Bang Syukur. "Nanti pas lebaran saya juga masih bisa menelepon Bapak sama Ibu."

"Kerja itu memang penting, Kur. Tapi kalau waktunya libur ya jangan memaksakan diri. Apalagi liburnya ini dalam rangka hari raya agama kita. Meskipun kamu bisa menelepon, tapi Bapak yakin orang tuamu akan lebih bahagia jika bisa melihat kamu langsung di depannya."

"Iya sih, Pak. Tapi mandor sudah terlanjur mengeluarkan jadwal jagaku. Tidak mungkin diubah lagi. Saya juga sudah bilang sama Bapak dan Ibu, lebaran ini tidak bisa pulang lagi."

"Itu kan memang dasar kamunya saja tidak niat pulang. Dengar ya, Kur. Bapak bukan melarang kamu berlebaran di sini lagi. Tapi kamu masih punya orang tua kandung di Ujung Batu sana. Sudah tiga kali lebaran kamu di sini terus. Kamu juga pernah cerita kalau sudah 10 tahun tidak berhari raya di rumah. Lalu sampai kapan kamu seperti itu terus?!" nada bicara Kakek Johan tiba-tiba sedikit meninggi.

Bang Syukur langsung terdiam. Wajahnya yang tiba-tiba tampak sedih itu kemudian tertunduk.

Kebetulan aku dulu juga pernah menjadi karyawan di pabrik tempat Bang Syukur bekerja. Memang begitu, bagi karyawan yang tidak mudik dan mau masuk kerja di hari libur lebaran, akan diberi gaji dua kali lipat. Kerjanya juga tidak berat, hanya menjaga pabrik, perkantoran dan perumahan karyawan. Jaganya juga cuma 8 jam, karena sistem kerjanya dibagi dalam 3 shift.

"Bapak tahu kenapa setiap lebaran kamu tidak mau pulang. Kamu minder melihat adik-adikmu semuanya sudah menikah? Kamu malu bertemu mereka? Iya kan?"

Bang Syukur semakin tertunduk dalam diam. Dugaanku selama ini juga seperti itu. Bang Syukur tidak pernah pulang lebaran karena malu hanya dia sendiri yang belum menikah. Bahkan adiknya yang paling bungsu saja anaknya sudah hampir masuk TK.

"Jangan-jangan kamu sulit mendapat jodoh begini karena kamu sudah tidak pernah merayakan Idul Fitri bersama orang tuamu. Kamu sudah tidak pernah bersimpuh meminta maaf kepada mereka. Kesedihan orang tuamu karena sikapmu yang tidak pernah mau pulang berlebaran, membuat jalan jodohmu terhalang."

Kakek Johan menghentikan ceramahnya. Dipandanginya Bang Syukur yang masih terus menunduk itu dengan tatapan iba.

"Pulanglah, Kur. Rayakan hari raya bersama orang tuamu, mumpung mereka masih ada. Minta doanya, minta restunya," lanjut Kakek Johan, kali ini suaranya terdengar lebih lembut.

"Ya sudah, Pak. Saya pulang ke Pabrik dulu," kata Bang Syukur tiba-tiba.

Kemudian ia segera berdiri dan berjalan keluar rumah. Saat melewatiku, dia hanya memandangku sebentar sambil tersenyum terpaksa.

"Malah pulang ke pabrik. Bapak kira mau pulang kampung," kata Kakek Johan.

Tanpa memperdulikan perkataan kakek Johan, bang Syukur langsung menghidupkan motornya kemudian pergi begitu saja. Mungkin dia tersinggung dengan sikap Kakek Johan hari ini.

"Biar saja dia marah. Sengaja Bapak memarahinya supaya dia mau berpikir," kata Kakek Johan kepadaku.

Aku hanya tersenyum simpul, mengiyakan.

"Bapak tidak enak hati sama orang tua kandung Syukur. Takutnya mereka mengira saya sengaja menahan Syukur supaya tidak pulang."

"Saya juga kasihan sama Bang Syukur. Saya yakin sebenarnya juga dia ingin sekali pulang berkumpul dengan orang tua dan adik-adiknya, hanya saja dia malu karena belum menikah," aku menimpali.

Beberapa saat aku dan Kakek Johan masih terus membicarakan Bang Syukur. Dan obrolan kami terhenti, ketika kemudian Bang Syukur muncul lagi dengan penampilan yang berbeda. Mengenakan jaket dan di punggungnya menggendong tas ransel yang lumayan besar.

"Saya mau pamit pulang ke Ujung Batu, Pak?" katanya sambil menyalami kakek Johan.

"Benar mau pulang?" Kakek Johan tidak langsung percaya.

"Benar, Pak. Saya sudah membatalkan semua jadwal jaga saya. Walau gara-gara itu tadi mandor marah-marah, tapi biarlah saya ingin pulang lebaran kali ini..

"Bapak senang sekali mendengarnya. Hati-hati ya, Kur. Salam buat Bapak dan Ibumu," ungkap Kakek Johan penuh suka cita.

"Iya, Pak."

Bang Syukur juga bersalaman denganku. Dan entah basa-basi entah serius, aku diajaknya berlebaran di kampungnya. Tapi kutolak sambil tersenyum, kubilang kapan-kapan saja.

******

Setelah siang itu hingga lebaran tiba, aku sudah tidak tahu lagi kabar tentang Bang Syukur, dan memang tidak mencari tahu. Seperti yang kujelaskan di awal, kita tidak bersahabat akrab, hanya sebatas kenal. Jadi saat hari kemenangan pun kami juga tidak saling mengucapkan selamat lebaran walau sekedar lewat SMS, karena kami juga memang tidak saling tahu nomor telepon seluler masing-masing.

Di hari lebaran aku sibuk dengan acaraku sendiri. Dan bagiku, lebaran kali ini terasa lebih baik dari pada lebaran-lebaran sebelumnya.

Pertama, adikku yang bungsu pada hari raya ini sudah bisa memenuhi kebutuhan lebarannya sendiri. Dia yang lulus SMK tahun kemarin sudah mendapat pekerjaan yang bagus di kota Pekanbaru.

Lalu adikku yang perempuan, yang biasanya merayakan lebaran di kampung suaminya, pada lebaran kali ini merayakan di rumah ayah ibuku. Rumah yang sehari-hari cuma dihuni Ayah, Ibu dan aku, pada lebaran kemarin jadi ramai penuh kebahagian dan canda tawa. Ditambah ada keponakan kecil yang sedang lucu-lucunya.

Benar kata Kakek Johan, tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi orang tua di hari raya, selain melihat kehadiran lengkap semua anak dan cucu-cucunya.

Sebenarnya secara perekonomian hari lebaran kali ini cukup memprihatinkan, di mana harga karet masih stabil murah, serta harga kelapa sawit yang justru terus menurun. Padahal dua komoditi itu adalah sumber utama pendapatan keluarga.

Tapi alhamdulillah, dengan pengaturan keuangan yang baik, kami sekeluarga tetap bisa merayakan lebaran dengan baju-baju baru dan makan daging. Tanpa harus mengambil tabungan apalagi berhutang kepada juragan sawit dan toke-toke getah karet.

Ternyata tak hanya itu, momen lebaran yang lebih baik lainnya terjadi sekitar tanggal 10 syawal. Saat itu aku sedang santai berteduh di bawah pohon kelapa di samping rumah, tiba-tiba ada yang memanggilku:

"Zuk!"

Aku menoleh. Tampak di samping rumah Kakek Johan, Bang Syukur sedang tersenyum lebar ke arahku. Aku segera mendekatinya. Menyalaminya sambil mengucapkan maaf lahir bathin.

"Sudah mulai masuk kerja lagi, Bang?"

"Abang sudah mengundurkan diri, Zuk. Tidak kerja lagi. Abang mau menikah," katanya dengan wajah berbinar.

Aku terkesiap. "Serius, Bang?"

"Serius. Itu calon istriku ada di dalam, lagi mengobrol dengan Kakek Johan."

"Wah... Selamat, Bang. Jangan lupa ya nanti undang-undang," aku benar-benar ikut berbahagia mendengar kabar itu.

Lalu bang Syukur bercerita bahwa ketika pulang kemarin, ia disambut bak pangeran pulang perang. Ya menurutku itu wajar, mengingat Bang Syukur sudah 12 tahun tidak berlebaran di rumah.

Bahkan di pagi Idul Fitri ketika meminta maaf kepada orang tuanya, katanya ia sampai tak kuasa menahan air mata. Ia menangis di pangkuan Ibunya. Ibunya juga menangis dan mendo'akannya supaya segera menemukan jodoh.

Lalu siangnya, ada teman adiknya bang Syukur yang datang berlebaran. Kebetulan temen adiknya itu seorang janda muda memiliki anak 1. Lalu oleh adiknya, Bang Syukur dikenalkan ke temannya itu.

Beberapa hari saling mengenal, mereka langsung merasa cocok satu sama lain. Dan tak ingin menunda-nunda lagi, mereka sepakat akan segera menikah.

Begitulah Bang Syukur bercerita dengan wajah teramat bahagia. Belum pernah aku melihat dia sebahagia itu di lebaran sebelum-sebelumnya. Ini pasti menjadi lebaran yang penuh syukur bagi Bang Syukur. Tapi yang luar biasa, do'a ibunya bisa langsung terkabul hanya dalam hitungan jam.

******

Beberapa hari lalu, aku dapat kabar dari kakek Johan kalau bang Syukur sudah menikah. Kakek Johan tidak bisa datang karena dia gampang mabok perjalanan jika naik mobil jarak jauh.

Aku ikut bahagia mendengarnya. Meskipun ada sedikit kecewa kenapa bang Syukur sama sekali tidak mengabariku. Mungkin dia terlalu bahagia sehingga lupa denganku. Mungkin juga dia terlalu sibuk mempersiapkan pernikahan. Atau mungkin karena kami memang tidak terlalu akrab. Tapi ya sudahlah. Toh kalau pun diundang aku belum tentu juga bisa hadir ke sana.

Yang pasti, lebaran kali ini benar-benar menjadi lebaran yang lebih baik bagiku. Melihat adik bungsuku sudah mandiri. Melihat adik perempuanku hidupnya bahagia bersama suami dan anaknya. Melihat kebahagiaan di wajah ayah ibuku. Melihat rona bahagia di wajah Bang Syukur. Dan satu hal lagi yang membuat lebaran kali ini benar-benar lebih baik, aku mendapat pelajaran berharga dari kisah Bang Syukur.

Bahwa kepulangan seorang anak di hari raya itu begitu berarti, paling dinanti dan sangat diharapkan bagi setiap orang tua. Kita mungkin bisa mengirimkan uang jutaan ataupun baju-baju baru untuk membuat orang tua kita bahagia, bisa menelepon mereka berjam-jam pada pagi Idul Fitri, tapi tentu saja tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan mereka jika kita bisa hadir langsung di tengah-tengah mereka.

Dan bisa jadi, mengapa cita-cita dan keinginan kita sulit tercapai, karena kita belum mendapat restu sepenuhnya dari orang tua. Mungkin diam-diam kita sering membuat Ayah dan Ibu kita sakit hati. Tanpa sengaja kita membuat mereka memendam kecewa. Tapi saat meminta maaf di hari lebaran, kita melakukannya tidak dengan sungguh-sungguh, tidak benar-benar dengan penuh perasaan dan malah sambil cengengesan. Bisa jadi.

*****

16 komentar

memang suatu kebanggaan tersendiri bila dihari raya bisa berkumpul dengan keluarga yamas,karena itu salah satu kebahagiaan batin

seperti lagunya bung haji Rhoma,rhido Illahi karena ridhoNya,murka Illahi karena murkaNya, ya mas ? :)

Iya, Mas. Bukan sekedar kebanggaan, berkumpul dengan seluruh keluarga di hari raya, juga termasuk ibadah. Karena mempererat tali silaturrahmi dan bisa saling bermaaf-maafan... :)

Wah iya bener, Bro. Makanya sangatlah utama di hari lebaran meminta maaf, doa dan restu kepada Ibu kita.

semoga kita bisa dapat mengambil hikmah dari uraian artikel di atas ya mas, harta yang paling berharga adalah keluarga, bener gak mas? tapi lain lagi kata mang sule mah "harta yang paling berharga adalah kelurahan"... hehehee... coba kalo gak ada kelurahan kita gak punya kartu keluarga, katanya hahahaaaa....

Tradisi mudik pada saat lebaran adalah tradisi yang salah satu tujuannya adalah bisa bertemu dengan keluarga, saudara dan handai taulan setahun sekali pada saat lebaran..

Jodoh memang susah untuk ditebak. Kapan datangnya dan kapan waktunya. Dengan silaturahmi sebenarnya jodoh mudah untuk didapat, jangan hanya focus kerja dan kerja tanpa mau bermain atau bertandang ke rumah orang tua, saudara atau teman.
Sukses, semoga langgeng dan berkah.

Moment2 lebaran memang sangat mengharukan, apalagi kalau bisa berkumpul bersama seluruh keluarga. terasa beda dgn berkumpul dgn hari-hari biasa ya Mas...

Iya, Mas. Mungkin karena semuanya memakai pakaian serba baru dan banyak kue-kue. Kalau hari biasa berkumpul paling karena ada keluarga yang sakit.. :)

Bener, Mas. Tetap semangat bersilaturrahmi pada hari lebaran, walaupun nantinya bakal ditanya-tanya 'kapan nikah?'. Siapa tahu dengan silaturrahmi tadi, kita malah menemukan seseorang yang bisa dijadikan jawaban dari pertanyaan 'kapan nikah?' :)

Oleh karena itu, kita perlu manfaatkan moment berkumpul keluarga tersebut dengan sebaik-baiknya, sehingga bisa menjadi moment lebaran yang semakin #LebihBaik dari lebaran-lebaran sebelumnya..

Aamiin...

Saya pribadi memang mendapat hikmah dan pelajaran hidup dari kisah itu. Baik kisah yang tidak baik maupun kisah yang baik, semua patut dijadikan pelajaran...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Mas kalo paklaringnya adanya yg fotokopian gimana?

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)
EmoticonEmoticon