Sabtu, 13 Februari 2016

Intinya, Hati Ini Masih Milikmu

Ini bukan perihal siapa yang bersalah. Akan tetapi, siapa yang terluka. Sesungguhnya, aku menyayangimu di setiap keadaan, mas. Sesuka, dan sesukar apapun. Aku selalu bahagia saat bersamamu, aku menyukai detak jantungmu, bahkan aku menyukai segala kebiasaan burukmu. Aku mencintaimu seutuhnya, aku wanita yang membutuhkanmu sepenuhnya. Semakin lama, semakin kuat rasa dalam dada. Semakin menderita bila kau jauh di mata. Aku menikmati setiap jengkal waktu yang Tuhan beri untuk kita. Denganmu aku merasa nyaman, denganmu aku ingin melewati setiap senja hingga menua.

Tiba-tiba ada yang mengusik relung di hati. Rasa nyaman, sudah tak seaman dulu. Akupun tidak percaya pada diriku sendiri. Mengapa ini semua bisa terjadi? Tidak pernah terpikir bahwa apa yang dulu menjadi cita, saat ini hanya sebuah cerita. Bagaimana mungkin pria yang dulu sepenuhnya adalah milikku, kini telah diikat oleh orang tuanya bersama hati yang lain. Siapa yang sebenarnya terluka? Aku,kamu, orang tua kita, atau hati yang lain itu?




Selain rasa cinta yang sangat besar, rasa bersalah yang cukup dalam juga sedang menggerogoti dada. Siapa sebenarnya hati pilihan orang tuamu itu? Siapa wanita yang mau-maunya menerima pria yang baru saja menanggalkan kisahnya denganku?Apa dia tidak pernah tahu tentang kita? Mana mungkin dia tidak mengetahui? Bukankah kau bilang, orang tuamu melakukan ini hanya untuk meredam kisah kita yang gagal karena terlanjur mencuat ke permukaan? Apa dia menerimamu karena terpaksa? Atau, sebenarnya diam-diam dia telah mengincarmu, untuk merebutmu dari sisiku? Aku mencoba mencari jawaban di dalam dada, namun tidak ada yang aku temukan kecuali kita. Tidak ada dia, tidak ada mereka. Hanya kita.

Apa menginginkanmu saat ini adalah kesalahan? Atau memang keadaan yang memaksa rasa ini menjadi salah? Apa aku telah mencoba merebutmu dari hati yang lain itu? Bukankah kau bilang tidak mengenalnya, mas? Bukankah kau bilang, melakukannya karena terpaksa? Bukankah seutuhnya hatimu adalah milikku? Jika iya, aku akan mempertahankan kita sampai dimana aku harus menyerah.

Meski mencintaimu sudah tidak leluasa, tapi cinta dalam dada takkan goyah. Bukankah kita pernah berjanji? Kita takkan tertanggal, kecuali salah seorang dari kita mendua. Jangankan keputusan orang tua, bahkan keputusan Tuhanpun bisa kita ubah dengan doa, bukan? Mungkin Tuhan menuntut kita untuk tetap bersabar, meski monster yang kita hadapi cukup besar.

Aku tidak bisa memilih. Meninggalkanmu yang aku kasihi atau membuatmu lebih lama menyakiti. Ini bukan pilihan, dan bahkan mencintaimu bukan kesengajaan. Apakah cinta memang begini? Masih sanggupkah bertahan, meski banyak hati yang tersakiti. Satu alasan dibalik banyak ulasan, aku mencintaimu sesungguh-sungguhnya, mas.

Baca juga: Kepada Ibu yang Kusemogakan Menjadi Ibuku Juga


Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)
EmoticonEmoticon