Karena Mencintaimu adalah Candu

Karena Mencintaimu adalah Candu. Ini bukan tentang pengorbanan. Namun ini perihal rasa. Kala itu air mataku tumpah. Mengingat semuanya. Otakku memutar kembali ingatan tentangmu. Aku sudah berusaha. Sebisaku. Meyakinkan diriku bahwa semua akan percuma. Karena yang sebenarnya kau inginkan hanyalah aku hilang. Sehebat dan segila apapun yang aku lakukan. Untukmu, semua tak berarti.

Aku terus mencoba. Hingga aku sampai di suatu titik. Titik dimana aku merasa semuanya benar-benar sudah kamu akhiri. Andai saja kamu mengerti bahwa sebegitu dalamnya kau ku cintai. Mungkin keadaannya akan berubah. Mungkin.

Ilustrasi cewek galau
Pict by Pixabay

Seraya menatap langit-langit kamarku. Yang dulunya adalah tempatku mengukir mimpi, kala mengobrol denganmu melalui telepon genggam. Sekarang hanya tinggal rasa sesak yang tak kunjung reda. Kenyataan bahwa kamu telah benar-benar melepaskanku. Akhirnya aku tersadar. Hanya aku yang menginginkanmu sebegitu besarnya. Tetapi kamu tidak. Di matamu, aku tidak berharga sama sekali. Kamu hanya memikirkan hidupmu sendiri. Jelas kamu menghancurkanku.

Aku ingin sekali melakukan semua yang telah ku rencanakan. Membencimu dan menghancurkan semuanya. Semuanya. Tapi aku tak bisa. Yang bisa aku lakukan hanyalah menunggu. Menunggu kamu sadar. Menunggu kamu peka. Sampai kapan? Hingga kemudian ada yang mengusik rasa penasaranku. Sebenarnya kamu itu ga peka atau ga peduli? Kamu ga punya otak atau ga punya hati? Tentu aku tidak mengharapkan salah satu hal tersebut ada di diri kamu. Aku terlalu sibuk meyakinkan diriku bahwa kamu manusia sepertiku yang pasti memiliki kepekaan, peduli, otak, dan hati. Aku salah. Bisa saja kamu tidak memiliki itu semua, namun hanya kepadaku. Hanya aku.

Berharap keajaiban datang. Jika bukan untukku. Setidaknya untukmu. Agar kamu sadar bahwa kamu sedang dicintai sebegitu dalamnya. Lagi-lagi aku tetap tidak bisa apa-apa. Walau aku tersakiti sampai segininya. Dan kamu ga peduli sampai segitunya. Aku tetap tidak bisa kemana-mana. Cinta ini tetap tak bisa kemana-mana. Mungkin, bukan seandainya kamu tahu. Tapi. Seharusnya kamu tahu.

Tak ada yang lebih menyakitkan dari menginginkan seseorang, tapi dia begitu inginnya dilepas. Kamu yang dulu pernah sangat menginginkanku. Sekarang telah menemui jalan lain. Aku sudah bukan orang yang kamu inginkan lagi. Apa mungkin cinta selalu begini? Bisa berakhir kapan saja ketika salah seorang menginginkannya.

Kini, tugasku hanya mengikhlaskanmu. Sayangnya mengikhlaskan itu tak sesederhana mengucap kata “hanya”. Apa menurutmu merelakan itu mudah? Enggak!! Aku benci ketika harus mengucap “Selamat berpisah, terima kasih telah menyerah”. Kamu yakin itu ucapan terima kasih? Enggak!! Aku hanya menyindirmu untuk segala alasan yang membuatmu menyerah atas kita.

Aku benci mengingatmu. Aku benci membasuh luka seorang diri. Aku benci harus membunuh kenangan-kenangan kita. Sampai akhirnya aku hanya berpura-pura. Aku berpura-pura bisa tanpamu. Aku berpura-pura juga tak lagi menginginkanmu. Aku berpura-pura menjauhimu, pada hal rindu. Aku berpura-pura berjalan dengan tujuan. Kamu ga pernah tahu. Bahwa semua hanya pura-pura.

Ketika kamu menyerah, aku kembali ke saat dimana kita pertama bertemu. Semuanya aku simpan dalam mesin waktu. Aku salah. Seakan malah mengaktifkan bom waktu. Yang kapan saja bisa meledak. Yang serpihan ledakannya menjelma menjadi rindu. Lagi-lagi aku merindukanmu.

Dan lagi-lagi, kamu gak tahu. Sesaat setelah kamu pergi. Untuk siapa lagi senyuman ini? Kepergianmu hanya mendekatkanku pada kesepian. Aku bahkan tak bisa berhenti memikirkanmu. Karena bagiku, mencintaimu adalah candu. Aku masih di sini, di persimpangan jalan ini. Tempat pertama kita bertemu. Aku masih menunggu. Jika suatu saat, dengannya kamu memiliki akhir.

Kembalilah. Aku masih mengulurkan tanganku untukmu, lalu kembali berjabat seperti waktu itu.

Karya: Kiki

ZUCKICI.COM - Bacaan Santai Saat Serius.

2 comments:

  1. Menunggu, ah kenapa daya harus menunggu. Lebih baik saya tetap berlari, terus berlari. Sampai akhirnya nanti aku menemukan hal baru dan akhirnya pula saya tidak ingat lagi jalan pulang.

    ReplyDelete
  2. rindu itu seperti makhluk pemalu.
    ia datang malam malam, dikala mata sulit terpejam.

    ReplyDelete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)