Senin, 09 Maret 2015

Masa Kecil Zuck dan Linn

Seperti biasanya, jam bermain TK Harapan Bunda selalu ramai. Anak-anak bermain dengan temannya masing-masing. Dade, Sinta, Vania, Lusi dan Gevi sedang bermain prosotan. Rein dan Dewik main jungkat jungkit. Anto main kejar-kejaran sama Indra. Beno dan Yudi main perang-perangan. Jabon dan Sudrun main cubit-cubitan. Hadeh.. Anak ini bakat maho-nya memang sudah terlihat sejak dini.

Sementara itu Zuck, Linn, Nivi, Louse, Bobi, Irgi, Eni dan Ara asik main petak umpet.

"Main petak umpetnya jangan pake ngumpet-ngumpet dong, nyusahin tau..." gerutu Linn ketika dapat giliran jaga.

"Laah.. Gimana sih, Linn? Namanya main petak umpet, kok gak boleh ngumpet?" protes Nivi.

"Kalo gak boleh ngumpet gimana kalo kita main gaple saja," usul Bobi.

"Kamu jangan curang dong! Gilaran dapat giliran jaga gak mau!" bentak Igi tepat di depan Linn. "Payah!"

"Eh, Igi. Jangan bentak-bentak Linn dong," Zuck datang menyelamatkan Linn. "Kalo berani ayo sama aku."

"Kamu jangan ikut campur yah. Ayo kalo berani?!"

"Ayo! Kamu pikir aku takut? Hah! Iya bener, aku emang takut kok," kata Zuck, lalu menarik tangan Linn dibawanya menjauh kerumunan anak-anak petak umpet.

"Kita main ayunan aja yah, Linn," ajak Zuck.

Linn tak menolak. Mereka kemudian melangkah menuju ayunan.

Persahabatan keduanya memang lengket banget kayak getah pisang nempel di baju. Banyak persamaan pada keduanya, di antaranya sama-sama sekolah di TK yang sama dan sama-sama takut sama dinosaurus.
Linn-lah yang membuat Zuck bersemangat pergi ke sekolah tiap pagi. Begitupun sebaliknya. Hanya di TK tersebut mereka bisa bertemu. Rumah mereka berjauhan.

"Bu Eren kayak orang gila yah. Ketawa tawa sendiri, hihihi..." kata Linn demi melihat Bu Eren, guru TK mereka yang sedari tadi teleponan sama pacarnya di sudut TK.

"Mungkin dia lagi ngobrol sama calon suaminya," jelas Zuck, sambil menarik dan mendorong ayunan yang ditempati Linn dengan hati-hati.

"Kok Mas Zuck tau?" tanya Linn. Menoleh sebentar ke arah Zuck.

"Kata mama calon suaminya Bu Eren seorang dokter," Zuck mendorong ayunan Linn kali ini lebih bertenaga.

"Jangan kenceng-kenceng Mas!" protes Linn.

"Hehehe takut, ya?"

"Aku juga nanti udah besar mau dokter," celoteh Linn. "Kalo Mas Zuck udah besar mau jadi apa?"

Zuck berhenti mendorong ayunan Linn. Ia duduk di ayunan satunya lagi. Kepalanya tergadah memandangi langit biru. "Kalo aku... Emm... Aku mau jadi seseorang yang melingkarkan cicin di jari manismu..."

Linn kecil menatap Zuck tak mengerti. "Supaya apa?"

Zuck menoleh. Balas menatap Linn di sebelahnya. "Itu namanya menikah. Supaya kita bisa berteman dan hidup bersama-sama sampai tua."

"Sampai tua? Ih senangnya, hihihi.." Linn tertawa lebar, memperlihatkan gigi tengahnya yang ompong dua.

Melihat itu, Zuck juga tertawa.

"Di sini mulai panas. Kita main di bawah pohon jambu air itu aja yuk," Linn menunjuk pohon jambu air di samping gedung sekolah.

Zuck mengangguk setuju. Kemudian meraih tangan Linn dan dibawanya berlari-lari kecil meninggalkan ayunan, menuju pohon jambu air yang tengah berbunga lebat.

"Tapi emangnya boleh, Linn menikah sama Mas Zuck? Kita kan bukan saudara? Semua orang menikah dengan keluarganya sendiri. Abangku menikahi Kakakku, Ibu menikahnya sama Ayah, O'om-nya Linn juga nikah dengan Tantenya Linn?" tanya Linn sesampainya di bawah pohon jambu air. Suaranya agak sedih.

"Emm.. Iya juga, yah?" Zuck turut sedih. "Kakekku juga nikahnya sama Nenekku. Mereka nikahnya sama saudara sendiri."

"Tapi aku gak mau nikah sama adikku. Dia nakal, suka minta mainan Linn. Kalo ga dikasih nangis."

"Sama, Linn! Aku juga gak mau menikah sama saudaraku, dia laki-laki, namanya Bambang. Aku maunya sama perempuan. Dan itu kamu..." ucap Zuck sambil menatap bola mata Linn yang bening kayak kuah bakso sebelum dikasih saos. Ditatap seperti itu, Linn tertunduk dan tersenyum manis.

"Kalo gak dibolehin?" tanya Linn kemudian.

"Aku nangis."

"Nangis? Haha.. Kata Ibu, anak laki-laki gak boleh cengeng."

"Iya sik. Gak boleh nangis," jawab Zuck pelan.



Beberapa saat keduanya diam, menikmati angin sepoi-sepoi yang tiba-tiba datang, mengibarkan bendera di halaman sekolah. Menggoyangkan pohon akasia, juga pohon jambu air tempat Zuck dan Linn bernaung. Zuck mengusap-ngusap rambut Linn, membersihan bunga-bunga jambu yang berguguran mengotorinya. Linn tersenyum kecil, merasa begitu nyaman dan terlindungi.

"Eh itu bunganya udah ada yang jadi buah."

"Mana, Mas?" Linn mendongak ke atas. Benar. Di antara bunga-bunganya yang banyak, ada beberapa yang telah menjadi buah. Warnanya merah, seperti bibir Linn.

"Linn mau?" tanya Zuck.

"Mau, Mas, mau banget. Udah sehari gak makan jambu air," sahut Linn dengan suka cita.

"Aku ambilin ya?"

"Giamana cara ngambilnya?"

"Aku panjat."

"Ih jangaaan! Nanti jatuh gimana? Kalo ketahuan Ibu Eren juga bisa dimarahin..."

"Enggaklah," Zuck tidak peduli. Ia segera menaiki pohon jambu demi mengambilkan buahnya untuk Linn.

"Hati-hati Mas..." seru Linn dari bawah.

Walau dengan sedikit susah payah, akhirnya Zuck berhasil memetik buah jambu yang letaknya lumayan di pucuk. Setelah itu ia pun turun.

Menjelang semeter lagi menginjak daratan, tiba-tiba... Jebrett!!! Dahan yang Zuck pijak sempal! Lalu kakinya terjegal dahan di bawah dahan yang patah tadi. Hasilnya jelas, Zuck terpelanting ke tanah dengan posisi kepala duluan. BEUKHH! Begitu bunyinya!

Linn menjerit kecil dan berlari mendekati Zuck. "Kamu gak apa-apa, Mas?"

Zuck memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan. Ia menggeleng lemah. Ia ingat anak laki-laki gak boleh cengeng. Gak boleh nangis.

"Kan udah dibilangin jangan manjat. Bandel sih," Linn memarahi Zuck. "Linn takut Mas jatuh, trus sakit, trus ga bisa sekolah, trus nanti ga ada yang nemenin Linn main."

"Kan ngambilin ini, buat kamu," Zuck memberikan jambu di tangannya. Sambil tetap meringis kesakitan.

Linn tak memperdulikan jambu tersebut. Di pegangnya kepala Zuck, kemudian dihembus-hembusnya penuh kasih sayang. "Fhuh.. Fhuh.. Fhuh..."

Zuck tersenyum di antara sakit, tapi memang gara-gara ditiup-tiup Linn sakit di kepalanya langsung jauh berkurang.

"Aku kayaknya salah jatuh tadi," katanya, sambil memandangi pohon jambu yang telah menjatuhkannya barusan.

"Iya Mas. Harusnya jangan kepala duluan."

Zuck mengangguk-angguk. Lalu tanpa pikir panjang ia segera memanjat naik ke pohon jambu lagi.

Linn tercengang beberapa saat.

"Mas?! Ngapain manjat lagi?!! Jangaan!"

"Yang tadi itu aku salah jatuh, Dek. Aku harus mengulang jatuh lagi dengan cara yang benar!" seru Zuck di ketinggian satu meter, kemudian melompat menjatuhkan diri. DUGH! Bunyi dengkul Zuck berbenturan dengan tanah.

"Adududuh..." rintih Zuck memegangi dengkulnya yang terasa nyeri. Mudah-mudahan dia tidak sampai mengalami gegar otak.

Sementara Linn, sudah pingsan sejak beberapa detik yang tadi.

*****

Baca Juga: Tersesat

13 komentar

romantisnyaaaaaaaaaaaaa mereka :')

Aihmaakk.. :*

ini kayak cerita zuck sama linn waktu kecil ni bang...
ya kan.

namanya cukup asing di telinga ya

Nggak tau ya. Ntar deh aku baca dulu :ng

Iya. Mungkin mereka merupakan mahluk asing :p

Aku juga gak mau menikah dengan sodaraku sendiri soalnya kita cuma 3 saudara kandung nanti jadi cinta segitiga!! aku bingung milih siapa?!!...Soalnya mereka cowok semua aku kan maunya sama kang zuck aja deh...

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)
EmoticonEmoticon