Cerbung Kino dan Kiny Part 3




Di episode ketiga ini akan ada adegan perkelahian dan kejar-kejaran mobil di jalan raya. Jadi sebaiknya membaca agak jauhan, supaya nanti kalau terjadi ada apa-apa tidak ikut terlibat dan ditanya-tanya sama polisi. Oia sebelum membaca ini, tidak ada salahnya untuk membaca episode-episode sebelumnya biar makin bahagia.

Episode sebelumnya: Kino dan Kiny Part 2

Pertarungan Sore

Sebuah Jaguar hitam meluncur pelan di jalanan sore. Di posisi driver ada Kiny yang baru saja memaksa Linn untuk ikut nonton pertarungan final Kino. Dan Linn juga akhirnya memaksa Zuck yang sedang asyik nyari keong untuk ikutan sekalian.

Sejak ketemu Kino di kantin siang tadi, entah kenapa Kiny jadi penasaran untuk lebih dekat mengenal Kino. Dilihat sekilas Kino emang mirip Tukul Arwana dengan model rambut petaknya itu, tapi saat dilihat lagi secara seksama dan dalam tempo agak lamaan, Kino cukup macho mirip Jet Li kala main film Danny Dogman.

"Linna," panggil Kiny.

"Iya saya sendiri," sahut Linn yang duduk di sebelah Kiny.

"Menurut kamu, Kino pantas gak jadi kandidat suami aku?" tanya Kiny tanpa menoleh pada lawan bicaranya, pandangannya konsen hingga 80 meter ke depan.

"Apa? Eh mata kamu baik-baik aja kan, Kiny?!" seru Linn, matanya sedikit mendelik ke arah Kiny. "Jadi kamu maksa minta ditemenin karena kamu naksir Kino?! Makin ngaco aja sih!"

Kiny memandang Linn sebentar. "Belum pernah kan kita dengar gosip yang enggak-enggak tentang Kino? Kayaknya dia alim, kamu lihat sendiri kan tadi waktu di kantin pake pakaian sholat gitu. Coba deh kapan-kapan kamu sempatkan waktu buat merhatiin dia lebih cermat, wajahnya boleh juga, dan bodynya … otot semua bo! Bikin gregetan!"

"Huft! Males banget!" gerutu Linn. "Masa Kino sih, Kiny? Kayak nggak ada cowok lain aja."

"Kenapa memangnya?" tanya Kiny dengan mimik sedikit tidak suka dengan sikap Linn yang terlalu meremehkan Kino. "Iya kalau ada sih maunya yang kayak pangeran, tampan, kaya, sholeh, setia, baik hati, rajin menabung dan suka berorganisasi. Tapi mana ada lelaki sempurna di dunia ini."

"Ada kok lelaki sempurna kayak gitu. Tapi ya masalahnya kamu nggak mungkin bisa memilikinya."

"Kenapa?"

"Soalnya kan Mas Zuck udah jadi milik aku," kata Linn sambil tersenyum memadang Zuck lewat pantulan spion tengah.

Kiny terbatuk-batuk hampir muntah mendengar ucapan Linn. Sementara di belakang, Zuck tampak membenarkan kerah bajunya penuh gaya.

Tak beberapa kemudian, di depan mereka ada sebuah mobil mogok di tepi jalan. Kap mobil itu tampak terbuka. Terdapat empat laki-laki di sana, salah satunya yang merupakan yang paling ganteng menyetop mobil Kiny. Mungkin mau minta bantuan.

"Tuh ada cowok ganteng siapa tau cocok. Masa Kino?" Linn tetap memprovokasi.

Kiny mengerem laju mobilnya. Membuka kaca pintu. "Kenapa mobilnya, Mas?"

"Ban bocor nih, mau ganti tapi nggak ada kunci. Mobil kamu ada kunci pembuka ban gak? Pinjam sebentar aja kalau boleh."

Karena pada dasarnya Kiny memang anak yang baik hati dan tidak sombong, ia pun turun dari mobil untuk mengambilkan kotak berisi kunci-kunci.

"Kunci sih ada banyak di belakang, tapi gak tau deh yang mana kunci pembuka ban. Pilih aja sendiri, ya?" kata Kiny pada salah satu cowok berjaket jeans yang paling ganteng, tapi tak disangka ternyata juga yang paling sadis. Bukannya menjawab, cowok itu justru menyekap dan menempelkan golok di leher Kiny. Kiny menjerit namun langsung dibungkam mulutnya.

Melihat itu Linn juga menjerit. Zuck juga pengen ikutan menjerit tapi malu.

"Sebaiknya kalian lepaskan gadis itu. Ingat ya, jadi penculik tuh gak baik lho," Zuck mencoba memberi wejangan tapi sama sekali tak digubris.

"Tenang. Gak perlu histeris. Kami cuma mau nyandera anak konglomerat ini. Kami butuh dana segar satu juta tapi dibayar dalam dollar. Wassalam!" tutup penjahat itu, kemudian serempak menaiki mobil yang ternyata tidak mogok. Melesat membawa Kiny. Tinggalah Linn berdua dengan Zuck dalam kebingungan.

"Mas kok diem aja sih? Hentikan mereka dong!"

"Hentikan gimana? Sama aja bunuh diri, Sayang."

"Mas takut sama penjaha-penjahat itu?"

"Ya takutlah. Mereka berempat. Bawa golok. Sementara aku?"

"Ternyata kamu lebih takut sama penjahat, daripada takut kehilanganku..."

"Ini lagi genting ya, Sayang. Berantemnya ntar aja!"

Di masa sulit, Kino muncul mengendarai motor bututnya. Sepertinya ia mau berangkat bertanding. Tapi terpaksa Linn hentikan dan minta pertolongan pertama pada Kino.

"Ada apa, Linn?" tanya Kino tanpa mematikan motor.

"Kiny diculik..." jawab Linn cepat.

"Diculik siapa? Kapan?"

"Diculik penculik. Barusan belum lama."

"Yaudah ayo cepet kita uber mereka! Kita selamatkan Kiny," tanpa pikir dua kali Kino langsung turun dari motor dan menyandarkan motornya di tiang listrik. Kemudian segara memasuki mobil Kiny untuk mengejar para penculik itu. Inilah saat yang tepat untuk menunjukan sifat pelindungnya kepada Kiny. Walau nyawa taruhannya!

"Motor kamu gimana, No, ntar ilang?"

"Pencuri kelas teri aja gak bakalan mau melirik motorku, Linn. Buruan! Ntar keburu jauh mereka."

Linn memandang Kino sebentar. Dalam hati ia mulai mengagumi kebaikan hati Kino. Ia pikir tidak salah sahabatnya itu memilih Kino menjadi calon pendampingnya.

"Trus ini siapa yang nyetir mobilnya?" Zuck bingung.

"Sampeyan aja, Mas. Saya ndak bisa nyetir mobil," jelas Kino.

"Tapi aku nggak bawa helm. Ntar kena razia."

"Udah buruan, Mas. Nggak usah banyak alesan! Hih!" kata Linn seraya menjitak kepala Zuck. "Buruan! Ntar Kiny keburu diselametin polisi!"

Zuck kemudian mengambil alih posisi driver dan mulai menjalankan mobil. Berhubung kemampuan menyetirnya cuma sedikit di bawah Ananda Micola, ia melarikan mobil dengan kecepatan tinggi berzigzag di jalan raya menyalip sepeda, becak dan mobil yang sedang parkir. Sebentar saja ia mampu mengejar dan mensejajari mobil para penculik.

Ada Kino si jago silat, keberanian Linn muncul. Maka dari dalam mobil ia berteriak. "Setan ya lo! Ganteng-ganteng jadi penjahat, gimana kalau jelek!"

Sementara di dalam mobil penculik, Kiny kaget mendengar gonggongan Linn, lebih kaget tapi seneng melihat Kino ada bersama sahabatnya itu.

Dan dua mobil itu terus kebut-kebutan, saling balab dan senggol-senggolan sangat mengerikan bagai dalam fiksi. Tiba-tiba Kino keluar melalui kaca pintu mobil!

"Kino kamu mau ngapain?!"  Linn bertanya dengan suara cemas.

"Aku mau meloncat ke mobil mereka!"

Dan aksi Kino selanjutnya sangat tidak masuk logika dan tidak dijamin kebenarannya. Adegan ini dilakukan oleh profesional terlatih. Don't Try at Home. Jangan Dicoba di Beranda! Siapapun dilarang keras menirukan adegan ini: Kino naik ke atap mobil padahal mobil dalam keadaan ngebut, kemudian dengan pede-nya melompat ke atap mobil para penculik. Linn menahan nafas sambil komat-kamit baca doa keselamatan menyaksikan aksi heroik yang pantasnya cuma ada di film Jackie Chan itu.

Tapi luar biasa, Kino sukses mendarat di atap mobil musuh, merayap ke kaca depan, menghalangi pandangan sopir. Dan sopir merasa menyopir dalam kegelapan, sehingga seharusnya belok kanan, malah lurus terus. Tak ayal, pohon randu yang tak berdosa mereka tabrak hingga penyok bagian depan mobil mereka!

"Heh kisanak! Berani-beraninya lo mengganggu kegiatan kami! Apa lo udah pengen dikirim ke alam barzah?!" gertak si jaket jeans setelah keluar dari mobil, sambil menghunus goloknya ke arah Kino. Wajahnya yang ganteng berubah menjadi sesangar leak!

"Lepaskan gadis itu!" Kino tidak mau kalah gertak. Kemudian melompat salto tiga kali dari atas atap mobil.

"Banyak bacot lo!" teriak salah satu penculik.

Kemudian para berandalan itu segera mengepung Kino. Zuck dan Linn terdiam penuh kekuatiran. Membayangkan duel yang sebentar lagi terjadi ini bakal lebih seru dan menegangkan dibanding pertandingan final yang rencananya mereka tonton.

"Bantuin Kino, Mas," kata Linn kepada Zuck.

"Ii.. Iya, Sayang, aku bantu," jawab Zuck sambil menengadahkan tangan. "Aku bantu dengan do'a...

Hiyaaattt! Ciaaat! Dzigh! Bagh! Begh! Hup! Bugh! Adauw! Bruk! Plaakk! Aaakkk! Tuluung! Duash! Prook! Dzegh! Ughh! Ampun! Tuiiing! Gedubrak! Bogh! Dzigh! Auouow!

Empat menit setelah suara-suara itu pertempuran usai. Seorang penculik terkapar tak bergerak entah semaput entah sudah lewat. Si jaket jeans tampak merintih memegangi kakinya. Sementara yang dua lagi kabur tunggang langgang.

"Kamu nggak apa-apa, bro?" tanya Zuck mendekati Kino.

"Ndak apa-apa, Mas. Cuma kebacok golok dikit."

"Huff... Syukurlah. Untung mereka cepet kabur. Kalau nggak, rencananya mau aku habisin!"

Kino hanya tersenyum. Mengusap-usap pipinya yang sedikit berdarah terkena sabetan golok. Perih.

Namun beberapa saat kemudian rasa perih itu sirna, manakala Kiny mendekatinya dan memeluk Kino sambil berterima kasih di antara tangisnya. Tak terbayangkan seandainya Kino tidak datang menolongnya, mungkin peristiwa yang lebih buruk akan menimpanya.

*****

Episode Terakhir: Kino dan Kiny Part 4

6 comments:

  1. Bang, kok Linn namanya jadi Linna? bukannya linntang? BTW saya ketawa lho bang... hihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya. Soalnya kalo Linntang kayaknya kurang pas pake dobel huruf 'n'. Itu. :)

      Delete
  2. Ini perdebatan yang gak penting. hahahahahaha.. ups!

    ReplyDelete
  3. wah siap... saya akan jauh2 bacanya (((: di bag.3 lebih di ekpose bagian actionnya yah! seru juga!! cool job!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Saya juga nulisnya jauh-jauh, takut kena peluru nyasar. :)

      Delete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)