Sabtu, 13 Juni 2015

Segi Tiga Beda Sisi

Cinta Segitiga

Divana

Aku Divana. Aku seorang karyawati di sebuah kantor pusat perusahaan pengeboran minyak bumi. Sudah hampir dua tahun aku bekerja di sana dan aku bangga. Sebab tidak mudah untuk bisa diterima bekerja di tempat itu.

Sedari kecil banyak yang memujiku cantik. Dan aku sadar aku memang cantik. Dari masa remaja aku selalu banyak disukai lelaki. Dan dalam kesendirianku akhir-akhir ini, jelas banyak pria mendekatiku ingin menjadikanku sebagai kekasih.

Tapi dari sekian lelaki itu saat ini hanya bersisa Rexi dan Nuno yang masih bersaing mendapatkan hatiku. Nuno adalah seorang security di sebuah dialer mobil. Sementara Rexi adalah teman sekantorku. Jelas aku lebih memberi harapan buat Nuno. Walau tak setampan dan sekaya Rexi, tapi Nuno yang sederhana itu bisa membuat aku bahagia lewat sikapnya humoris tapi penuh perhatian.

Sedang kalau Rexi masih terus mengejarku itu karena ambisinya yang kelewat gila. Sebelum janur kuning melengkung dia berjanji akan terus memburuku. Tapi kupastikan dia akan bertepuk sebelah tangan selamanya. Karena aku benci setengah mati dengan polahnya yang playboy itu.

Ternyata, selain playboy Rexi juga manusia berkepala batu atau mungkin malah bermuka beton. Penolakanku dari kemarin-kemarin tidak menyurutkan sedikitpun niatnya. Buktinya, malam ini ia kembali menyambangi kostku. Mengajakku jalan.

"Berapa kali sih aku harus ngomong, aku gak bakalan mau diajak kamu kemanapun! Sekali tidak sampai kiamat juga tidak!"

Kalau kemarin-kemarin aku masih berusaha menolak secara halus, kali ini sepertinya aku tidak perlu berlembut-lembut lagi.

"Kenapa sih kamu gak mau menghargai niat aku untuk berubah, Div? Aku…."

"Rex!" potongku ketus. "Apapun alasan kamu gak berarti buatku. Kamu todong pake pistolpun, aku gak bakalan mau jadi pacar kamu! Ingat itu! Dan saranku, lebih baik kamu pulang aja dan gak usah susah-susah nyari-nyari aku lagi. Percuma!"

Rexi menatapku tak percaya aku bisa sekeras ini. Biar mampus! Kuharap kali ini dia akan jera dan menyadari bahwa tidak semua cewek bisa tahluk oleh pesonanya.

Di saat yang tepat Nuno datang menjemputku. Kusambut mesra kedatangannya biar Rexi semakin kapok.

"Ren, aku pergi dulu yah?" pamitku pada Eren. Eren adalah teman sekostku. Dia seorang guru les di beberapa bimbel di kota ini. Eren memiliki ketidaksempurnaan di kaki kirinya, yang membuatnya pincang ketika berjalan. Tapi aku sangat menyayangi sahabatku itu.

"Iya, Diva. Hati-hati ya?" sahut Eren dari dalam kamarnya.

Dan aku sangat bahagia dan lega malam ini. Nuno mengungkapkan cintanya. Ketegasan inilah yang kutunggu-tunggu dari Nuno. Dalam hati juga aku berharap, semoga Nuno juga akan segera melamarku.

Sampai hampir tengah malam, aku dan Nuno jalan-jalan menikmati indahnya pasangan yang baru jadian. Dan saat Nuno mengantarku kembali ke kost, benakku dipenuhi keheranan. BMW Rexi masih terparkir di halaman kost. Hahh?! Jantungku rasanya lepas dari posisinya. Dari kaca jendela kulihat Eren dan Rexi duduk berdekatan. Tangan mereka bergenggaman. Hatiku panas! Tapi sumpah bukan cemburu, tapi ini semacam muak melihat kelakuan Rexi.

Pintu kuketuk keras-keras dan kudorong begitu saja dengan kasar. Melihat kedatanganku Rexi buru-buru pamit pulang.

"Ngapain dia, Ren?" selidikku.

"Mulai malam ini aku jadi pacarnya, Div," jawab Eren riang dan bahagia.

"Kenapa selangsung itu kamu menerima dia? Kenapa nggak mencari tahu dulu dia itu siapa? Kamu nggak tahu sebenarnya dia, Ren. Nggak tau!" omelku.

"Gimana dong, Div. Aku terlanjur jatuh cinta sama dia..."

Rexi sialan! Aku makin kesal melihat keluguan Eren. Pengalaman dia di bidang percintaan memang masih belum ada. Ketidaksempurnaanya telah membuat cowok-cowok tidak ada yang mau memacarinya.

"Kamu berhak punya kekasih, Ren. Tapi kalau sama Rexi aku sangat tidak setuju. Lebih baik Rexi gak usah kamu layanin lagi."

"Kenapa, Div? Aku suka sama dia. Dan dia mau menerima aku apa adanya kok."

Lalu kujelaskan dengan lantang segala kebobrokan tingkah Rexi sedetail-detailnya. Tentang kegemarannya gonta-ganti pacar dan penderitaan wanita-wanita yang dikhianatinya.

"Dia juga ngomong gitu tadi. Tapi dia janji akulah pacar terakhirnya. Katanya...

Belum selesai kata-katan Eren, tiba-tiba ponselnya berdering. "Halo Rex. Belum nih lagi ngobrol sama Divana. Kamu sendiri kok belum bobo?"

Selanjutnya Eren masuk ke kamar dan teleponan dengan si buaya itu! Bodoh! Eren sungguh telah lupa daratan terpesona rayuan Rexi! Semua peringatanku tak diindahkannya.

Terpaksa Rexi yang kulabrak esok paginya di depan kantor.

"Jangan karena nggak berhasil mendapatkan aku, lantas kamu membabi buta memacari Eren! Kumohon, Rexi. Jangan dekatin Eren lagi! Aku nggak mau suatu hari dia bunuh diri karena kamu!"

Rexi cuma tersenyum. "Div, gue juga pernah bilang sama lo, gue mau berhenti gonta-ganti pacar. Dan ternyata Eren adalah cewek terbaik dari semua cewek yang pernah gue temui! Aku beruntung bisa kenal dia. Aku nggak mungkin ninggalin dia."

"Kamu tuh cuma pintar ngomong doang!"

"Udahlah Div, cape. Gue ke dalam dulu ya," kata Rexi sambil beranjak pergi.

"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Eren gara-gara kamu, aku nggak akan tinggal diam. Ingat itu!" teriakku mengiringi langkah Rexi.

Ia menoleh. Menyuguhkan senyum termanisnya. "Oke!" katanya sambil mengacungkan kedua jempol jarinya.

Tapi aku belum percaya, cowok sebrengsek dia sulit dipercaya kata-katanya.

Sebulan berlalu, syukur tak kulihat maupun kudengar Rexi menggandeng cewek sana menggoda cewek sini seperti sebelumnya. Di kantor sekarang dia anteng. Pulang ngantor lebih sering ke kosan menemui Eren. Sampai dua bulan hubungan mereka tetap aman-aman saja. Di tiga bulan hubungan Rexi dan Eren justru semakin mesra. Rexi tak malu menggandeng langkah timpang Eren di keramaian. Saat kaki Eren terinfeksi dan dirawat di rumah sakit selama 8 hari, Rexi juga rela menunggui selama itu.

Bahkan dengan percaya diri yang tak kusangka-sangka, setiap akhir pekan Eren sering dibawa Rexi dan dikenalkan kepada teman-temanya. Malah beberapa kali juga diajak main ke rumahnya dikenalkan pada orang tuanya, dan syukurnya disambut dengan hangat oleh mereka. Benar! Ternyata Rexi telah berubah!

Memasuki bulan keempat justru malapetaka yang menimpaku. Nuno yang kebaikan sikapnya pernah kubanggakan itu ternyata lebih bajingan dari bajingan! Kupergoki dia bermesraan dengan cewek lain yang belakangan kuketahui bernama Nevy. Aku sangat kecewa. Perkiraanku kalau Nuno lebih baik dari Rexi ternyata meleset jauh. Dan sakit hatiku masih ditambah rasa malu pada Rexi dan juga Eren. Entah kenapa diam-diam aku mulai merasa iri menyaksikan kebahagiaan mereka.

Tapi mungkin sudah resikoku menjadi cewek cantik. Bubarnya aku dengan Nuno justru hal yang dinanti banyak cowok lain. Mereka berdatangan mencoba menawarkan cinta yang lebih baik dari Nuno. Dari dulu aku memang tidak mudah menerima cowok, ditambah luka akibat salah pilih kemarin membuatku semakin waspada.

Dari beberapa lelaki yang serius mendekatiku, hanya seorang bernama Ringga yang bisa membuatku nyaman. Dua bulan Ringga mengakrabiku, setia mendengar keluh kesahku, mengobati keterpurukanku lewat caranya yang terbukti membuat hari-hariku ceria lagi. Saat dia berkata cinta suatu sore aku tak berdaya. Kuterima dan berharap dialah cowok yang tercipta untuk membahagiakan aku. Seperti Rexi yang tulus membahagiakan Eren.

Tapi ternyata tidak! Sepucuk kukupun tidak! Beberapa menit yang lalu Ringga menemuiku dengan wajah dingin. "Div, maaf, ternyata gue salah milih elo. Gue nggak bahagia pacaran sama elo. Dan gue udah nemuin cewek lain yang lebih membuat gue bahagia. Selamat tinggal Div. Anggap aja kita gak pernah kenal."

Segera saja dia pergi tanpa menunggu reaksiku. Aku belum mampu berkata-kata. Linglung berat! Kulihat di dalam mobilnya memang ada sosok cewek lain entah siapa. Masihkah Ringga punya hati dan perasaan, sehingga begitu entengnya berkata begitu. Padahal kami baru tiga hari jadian. Seharusnya aku lagi sayang-sayangnya sama dia. Kenapa nggak kamu matikan saja aku, Ngga! Jerit pilu hatiku.

"Masih di rumah, Div? Nggak jadi pergi sama Ringga?" tanya Rexi tiba-tiba. Dia entah dari mana, memasuki kosan dengan mengapit mesra Eren.

Aku menatap dengan mata berkaca-kaca.

"Masuk yuk. Aku punya kabar bahagia. Bahagia banget, Div!" seru Eren seraya menarik tanganku. Suaranya lebih riang dari biasanya.

Aku masih diam saja.

"Besok, keluarga Rexi akan datang ke kampungku. Meminang aku, Div!" ucap Eren bergetar. Matanya berbinar menatapku. Aku sangat tersentak! Tak kusangka hubungan mereka akan sampai seserius ini.

"Selamat ya, Ren," ucapku parau.

"Makasih, Div," serta merta Eren memeluku menumpahkan kebahagiannya. Siapa yang tak bahagia punya calon pendamping tampan, kaya dan ternyata berhati baik.

"Kamu sama Ringga harus ikut besok. Kali aja kalian akan mengikuti jejak kami," usul Rexi.
Perih sekali mendengar anjuran cowok yang pernah kutolak kasar itu.

"Nggak perlu. Ringga sekarang bukan apa-apa aku lagi," ucapku mulai terisak. Aku sudah tidak mampu menyembunyikan kesedihanku.

"Kenapa dengan Ringga, Div?" tanya Eren memandangku cemas.

Aku tidak mampu menjelaskan semuanya kepada mereka. Akal sehatku seakan tidak berfungsi mengingat deretan kebodohan yang telah kuperbuat. Aku berlari memasuki kamar diiringi tatapan aneh mata Rexi. Mungkin iba dengan nasibku atau entah menyoraki kesialanku. Eren juga menatapku prihatin, namun itu tidak bisa mengalahkan sinar bahagia di matanya. Mungkin andai dulu aku yang menerima Rexi, tatapan bahagia itu menjadi miliku.

Menyesal, kalah, malu, iri, bodoh dan berbagai perasaan mengaduk-aduk dadaku. Tangisku makin menggila dalam benaman bantal yang telah basah.

***** 
Eren

Aku Eren. Seorang guru di beberapa Bimbingan Belajar di kota ini. Aku tak seberuntung Divana teman sekostku yang baik dan penuh perhatian padaku itu. Sebagai wanita ia sangat beruntung punya wajah cantik yang digilai banyak lelaki. Sedang aku, walau tidak jelek tapi juga sangat tidak cantik. Ditambah kaki kiriku yang tak normal membuat tak satupun lelaki mau jadi kekasihku.

Padahal terkadang aku juga ingin merasakan punya kekasih yang kabarnya bisa membuat hari-hari berwarna, bersemangat, ceria, cembur, menangis bahkan bunuh diri. Tapi aku sadar diri dengan kekuranganku ini. Aku tak berani muluk-muluk bermimpi. Aku hanya sering berdo'a saja, semoga Tuhan suatu saat mengirim jodoh lelaki yang baik untukku.

Suatu malam, pria bernama Rexi tiada angin tiada hujan tiba-tiba ingin berkenalan denganku. Hanya tiga jam berkenalan dia nekat menjadikanku pacar. Aku hampir semaput di buatnya. Bagai mimpi rasaku menerima anugerah ini. Di impiankupun tidak pernah berharap lelaki seganteng dia yang mau denganku. Divana yang tak setuju. Dia habis-habisan memperingatkan aku untuk tidak menemui Rexi lagi.

Tapi nyatanya semua omongan Divana memang tak terbukti. Rexi tulus menyayangiku. Pernah selama delapan hari menemaniku di Rumah Sakit. Tak sungkan mensejajari langkah-langkah tak sempurnaku. Diperkenalkan kepada teman-temannya, juga pada orang tuanya yang ternyata baik hati mau menerima kekuranganku. Harusnya Divana malu karena pendapatnya dulu lebih menyerupai hasutan. Justru dia yang lebih punya pengalaman cinta bisa tertipu Nuno.

Dua bulan dia merana oleh penghianatan Nuno. Beruntung dia memiliki wajah cantik. Sebentar saja dia sudah menemukan Ringga. Kuingin cinta mereka bisa bertahan seperti aku dengan Rexi. Dan puncak kebahagianku ada dimalam ini. Rexi baru saja mengatakan ingin menjadikanku pasangan hidupnya. Oh … Rexi bagaikan memetikan bulan untukku.

"Benarkah ucapan kamu, Rex?" aku masih belum percaya.

"Iya. Besok aku dan Papa akan menemui orang tuamu. Aku serius! Kamu maukan menjadi istriku?" ungkap Rexi dibarengi dengan tatapan teduhnya.

Aku mengangguk. Mataku memanas. Jiwaku menggeletar. Terima kasih Tuhan..... Kuyakin inilah buah dari do'a-do'aku selama ini.

"Kita pulang, yuk. Ringga dan Divana harus tau kabar bahagia ini," ajak Rexi.

Aku mengangguk lagi. Sambil tersenyum bahagia. Ruang-ruang hatiku sepertu dipenuhi bunga-bunga. Tapi sampai di kosan, kujumpai Divana murung sendiri. Sapaan Rexi tak ia tanggapi. Mungkin kesal karena Ringga tak mengapelinya.

"Masuk yuk. Aku punya kabar bahagia. Bahagia banget, Div," kutarik tangan Divana.

Divana tampak diam saja.

"Besok, Rexi dan keluarganya akan datang ke kampungku. Meminangku, Div!" kataku.

Kulihat mata Divana sedikit terbelalak menatapku. Mungkin dia tak percaya.

"Selamat ya, Ren," ucapnya kemudian dengan suara pelan.

"Makasih, Div," serta merta kupeluk sahabatku ini.

"Kamu sama Ringga harus ikut besok. Kali aja kalian akan mengikuti jejak kami," Rexi memberi usul.

Benar juga pikirku. Mereka harus ikut.

"Nggak perlu. Ringga sekarang bukan apa-apa aku lagi," jawab Diva terisak.

Aku kaget dengan kata-kata dan air mata Divana. Pasti sesuatu telah terjadi dengan hubungan mereka.

"Kenapa dengan Ringga, Div?" tanyaku begitu cemas.

Dia tidak menjawab. Malah berlari ke kamar sambil menangis. Kebahagianku rasanya tak sempurna dengan Divana kembali terluka. Aku heran. Kenapa gadis seselektif dia masih saja salah memilih lelaki.

"Aku pulang dulu yah? Nggak enak ada yang kena musibah," pamit Rexi.

Aku mengangguk pelan. Rexi melangkah pulang setelah meninggalkan kecupan di keningku. Nyaman sekali rasanya. Ah, ternyata aku lebih beruntung daripada Divana.

******
Rexi

Hai. Gue Rexi. Lelaki yang terlahir dengan banyak keberuntungan. Wajah gue ganteng dan orang tua gue pejabat tinggi negara yang kaya raya. Itulah yang memodali gue menjadi seorang playboy. Karena jabatan orang tua gue itu juga, gue bisa diterima di kantor pusat perusahaan pengeboran minyak bumi ternama.

Selama ini, semua cewek yang gue dekati selalu berhasil gue pacari. Tapi ada satu cewek cantik yang gue rasa sangat sombong pada gue. Tatapan matanya seolah gue ini seorang penjahat yang harus dihukum mati. Namanya Divana, teman sekantor gue. Gue jelas merasa tertantang melihat gaya angkuhnya itu. Gue pengen nyoba sejauh mana ia tahan banting dengan pesona-pesona gue.

Ternyata memang benar-benar sulit. Perjuangan yang lebih extrapun belum mampu melumpuhkan dia. Cara-cara yang biasanya membuat cewek lain luluh buat Divana sama sekali nggak berpengaruh. Tapi gue berjanji nggak akan berhenti memburunya sampai dapat.

Tapi tetap saja nihil besar hasilnya. Justru dia mulai muak dengan segala keagresifan gue. Menolak gue mentah-mentah! Bahkan dengan kasarnya mengusir gue! Darah gue mendidih! Untuk pertama kalinya gue benar-benar sakit hati banget gara-gara cewek. Apalagi saat gue tahu Divana justru memilih Nuno, cowok yang kualitasnya jauh dibawah gue. Gue merasa terhina! Belum pernah cowok sekaliber gue mendapat penolakan sekejam ini. Dendam gue meluap ke mana-mana.

Dan saat gue melihat Eren, teman ngekost-nya Divana, dialah pelampiasan dendam gue. Dia masih sangat polos. Hingga dengan cara-cara sederhana saja Eren begitu mudah jatuh. Divana yang marah nggak terima. Tapi dengan kepandaian gue bersandiwara, gue buat seolah-olah gue benar-benar menyayangi Eren. Gue pura-pura setia mendampingi Eren saat di Rumah Sakit. Menahan malu sekuat tenaga saat beriringan dengan langkah terseok-seok Eren. Rela merendahkan harga diri gue setingkat sampah saat Eren gue kenalin sama teman-teman dan orang tua gue. Anehnya bokap nyokab malah setuju hubungan gue sama Eren. Katanya Eren mampu merubah sifat buaya gue. Mereka nggak tahu kalo ini adalah kebohongan! Biar Divana nyesel pernah nolak gue!

Gue sampai membayar Nevy, teman sediskotik gue untuk menggoda dan merebut Nuno dari Divana. Berhasil! Gue lihat Divana sangat terluka mengetahui Nuno lebih bejat dari gue. Gue juga membayar Ringga, pacarnya Nevy untuk mengobati luka Divana kemudian melukainya kembali. Luka yang lebih mengenaskan gue harap. Dan sekarang adalah sandiwara terakhir gue. Gue pura-pura akan meminang Eren. Cuih! Gue benar-benar jijik! Gue ingin cepat-cepat menyelesaikan semua kegilaan ini.

"Masih di rumah, Div? Nggak jadi pergi sama Ringga?" sapa gue.

Divana tampak murung tidak memperdulikan sapaan gue. Gue yakin Ringga sukses menghancurkan Divana. Batin gue puas ngeliat kecantikan Divana berubah kusut tanpa gairah hidup. Mampus lo!

"Masuk yuk. Aku punya kabar bahagia. Bahagia banget, Div," kata Eren, pacar palsu gue kepada Divana.

Divana masih diam tak peduli. Karena gue yakin, sekarang dia lebih peduli dengan luka-luka di hatinya.

"Besok, keluarga Rexy akan datang ke kampungku. Meminangku, Div!" lanjut Eren.

Dan gue lihat Divana seperti orang shock.

"Selamat ya, Ren," ucapnya pelan.

"Makasih, Div."

Lalu dua cewek sialan itu berpelukan.

"Kamu sama Ringga harus ikut besok. Kali aja kalian akan mengikuti jejak kami," kata gue gembira, biar Divana makin terpuruk.

"Nggak perlu. Ringga sekarang bukan apa-apa aku lagi," jelas Divana dengan suara serak menahan tangis.

"Kenapa dengan Ringga, Div?" tanya Eren.

Divana gak menjawab. Divana yang dulu ketus mengusir gue itu, kini berlari ke kamarnya sambil menangis tersedu-sedu. Hati gue bersorak puas melihat itu!

"Aku pulang dulu yah? Nggak enak ada yang kena musibah," pamit gue sambil memberi kecupan terakhir buat Eren.

Iya kecupan terakhir, karena besok gue akan pergi jauh. Jauh sekali. Persetan dengan janji gue meminangnya. Siapa yang sudi memperistri gadis jelek dan invalid seperti dia. Dan entah apa yang akan terjadi nanti setelah Eren dan Divana tahu sandiwara ini. Mau bunuh diri bersama, mau menangis 7 hari 7 malam, gue gak urusan! Besok gue akan terbang ke Amerika, melanjutkan studi dan mencoba menjadi playboy di negeri adikuasa itu. Haha!

Sambil nyetir gue mencoba menghubungi Ringga.  "Halo, Ngga."

"Iya Halo. Gimana?"

"Hahaha... Makasih banget, bro! Misi lo berhasil! Cewek sialan itu benar-benar terpuruk berat! Hahaha..." gue tertawa puas bukan main.

"Jujur gue sebenarnya kasihan sama cewek itu, Rex."

"Hahaha... Ngapain lo berpi....." belum sempat gue menyelesaikan kata-kata gue, tiba-tiba mobil di depan gue berhenti mendadak! Refleks gue banting stir ke kanan. Dan tanpa gue sangka-sangka, dari arah depan muncul mobil lain dengan kecepatan tinggi!

BRAAAAKKKK! Gue bisa mendengar suara itu. Gue sempat merasakan mobil gue berguling-guling entah berapa kali. Sebelum akhirnya menyadari tubuh gue telah terhimpit body mobil yang ringsek. Sekujur tubuh gue terasa perih dan basah oleh darah. Tapi belum sempat gue berbuat apa-apa, api sudah berkobar-kobar memenuhi mobil gue, mengurung gue! Sekarang seluruh tubuh gue terasa panas luar biasa! Gue menjerit sejadi-jadinya. "Tolooooongg!"

Tapi nggak ada bisa yang menolong gue, sampai gue nggak bisa bercerita.....

******
Baca Juga Cerpen Lucu: Kencan Kacau

26 komentar

kereeennn apikkk bgt mas (y)

Hehe. Terima kasih sudah membaca, Maudri Andri. :)

Jadi pas sakaratul maut masih sempet cerita gitu. Hihi. But it's so amazing. 😀

Halah. Ini kan cuma sinetron, Nurus Shobah. Tapi terima kasih sudah membaca dan komentar :)

perlu saya boorkmak dulu nih mas, biar bisa meresapa dalam membaca ceritanya

Hahaha iya, Mas. Gimana baiknya saja... :)

Bagus banget ceritanya kenapa jarang posting lagi d fb ama twitter

Bang juki ceritanya Bagus-bagus, kayaknya kalo jadi penulis cocok. Beneran!!

What the hell !! kirain tu cwo beneran baek

walah, kirain cowok tuh bener-bener tobat, ndak tahunya buaya buntung to, he.. he.. bagus ceritanya, endingnya pun joss..

sukanya film india ya kang he..he...

kren mas, padahal aku blum baca, brasa kren banget

Lah ini kan udah jadi penulis, meskipun penulis blog. Terima kasih sudah sering baca, Fauzi :)

Hahaha.. Nggak usah terbawa suasana, Gan. :)

Karena aku sayang kamuh, hahaha...

Begitulah. Di kehidupan nyata juga banyak kan kejadian kayak gitu. Kirain baik, eh ternyata baik banget...

Terima kasih Mas Isrofi udah mampir dan mengapresiasi. :)

Aura kerennya udah berasa ya. Huh... Hebat canggih dan beda kamu, Indra!

setelah ending tersebut ..bisa dilanjut ke sesi 2 tuh bang ..
menceritakan nasib divana ama eren,
maklum, kali aja ada yg mau tahu tentang kelanjutan nasib mereka berdua. .kyak gue

Ijin shared lagi aaaaaaaaah,mantep banget nih abang Zuki ceritanya.......

Wow kren bgtz....terus berkarya ya mass e.. 10 jmpol dah

Wow kren bgtz....terus berkarya ya mass e.. 10 jmpol dah

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)
EmoticonEmoticon