Wanita Itu...


Derap langkah kaki pria itu serasa memecahkan keheningan di lorong Mall lantai 3, terlihat dari sepatunya bak tentara yang berukuran 42. Langkah kakinya semakin dipercepat dan dipercepat. Namun, perlahan-lahan hentaman sepatunya di atas lantai itu berkurang kecepatannya, dan akhirnya terhenti di pertigaan lorong.


Sejenak dia merasakan jantungnya berdebar dan perasaannya tidak enak. Dia mengingat kembali ketika memasuki mall ini. Pikirannya kacau... Saat ini, dia mulai gelisah dan bingung. Dari pertigaan sekarang, kemana dia harus berbelok, ke kiri atau ke kanan. Sampai pada akhirnya dia mencoba mengikuti batinnya dan memilih ke arah kanan, dan dia cukup lega karena pilihannya itu tidak salah.

Tiba-tiba... Dari belakang dirasakannya ada sesuatu yang mengikutinya sedari tadi. Dengan sigap dia memutar badannya dan dia melihat sesosok wanita yang berdiri dengan short dress warna putih, rambutnya terurai panjang dan wajahnya pucat pasi, memandang tajam ke arah pria itu yang saat ini sudah berdiri tidak jauh di depannya.

"Mengapa kau pergi begitu saja dalam keadaanku yang seperti itu?" kata wanita itu dengan muka yang masih menunjukkan pucat pasi.

Pria itu hanya diam, dan tak tahu harus berbuat apa, karena saat ini pikirannya sendiri sedang kalut.

"Dan sekarang kamu tega membiarkan aku seperti ini, Radit!" lanjut wanita itu, dengan kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca.

Selangkah dua langkah wanita itu lalu mendekat. Pria yang telah diketahui namanya Radit itu, hanya berdiri di hadapannya dengan kondisi masih dalam diam. Namun terlihat kedua tangannya sudah mengepal erat, sedikit gugup dan dahinya mulai bercucuran keringat dingin.

Kemudian... Radit mulai mengangkat suaranya, namun dengan nada tersengal. "Mengapa kamu menahanku? Mengapa kamu sampai menghampiriku ke sini?"

"Apa kamu sudah nggak sayang aku lagi, Radit?" tanya balik wanita itu dengan tatapan tajam.

Radit sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Dia melangkahkan kakinya ke depan. Dirogohnya saku celananya, lalu ia keluarkan benda berbahan kulit berwarna cokelat muda.

Radit kemudian mengulurkan sebuah kartu ke tangan wanita itu, dan berkata, "Bukannya aku nggak sayang sama kamu, tapi aku tadi buru-buru banget. Jadi maaf udah ninggalin kamu di depan toko sepatu. Bukannya juga aku gak mau beliin kamu sepatu. Tapi tolonglah berikan aku waktu masuk ke dalam. Aku sudah kebelet dari tadi. Kenapa sih kamu nggak peka Sinta sayaaang..." jelas radit panjang lebar, kemudian mencubit kedua pipi pacarnya gemas.

"Iiya tahu, tapi aku dari tadi juga laper nih," jawab Sinta dengan mengusap air mata di pipinya, yang dari tadi sudah melunturkan celak, airliner, serta maskaranya.

Setelah itu Radit langsung memasuki toilet yang ada tidak jauh darinya. Sementara Sinta berlalu pergi menuju kafe dan toko sepatu yang terletak di lantai 1, dengan membawa ATM Radit.

Pengirim : Nova Feri Andani
Editor      : Zuki Rama

6 comments:

  1. hahahhaaaa....itulah mengharap pengertian, tapi akhirnya dibunuh pengertian itu sendiri...konyol kan gan...heheheeee.....jadi seger gan.

    ReplyDelete
  2. haha :D dibacanya udah serius, eh ujung-ujungnya seperti itu :D hahaha :D ada ada aja nih cerita :D

    ReplyDelete
  3. yaa amsyong, ceritanya konyol banget mas :D kirain gemeteran kenapaa gitu .. eh ternyata :D :D

    ReplyDelete
  4. buweheheee...harapan palsu telah didapatkan, sayang dan pengertian yang diharapkan malah sebaliknya yang diterima.....makjleb banget kang.

    ReplyDelete
  5. ceritanya si sinta ngambek sama radit minta dibeliin sepatu toh mas.
    sampe nangis gitu

    ReplyDelete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)