Komedi Cinta: Bunga Di Tepi Ranjang


Sebuah Komedi Cinta, Bunga Di Tepi Ranjang

Jadi selain pernah sakit karena jatuh dari pohon kenari, saya juga pernah merasakan sakit karena jatuh cinta. Peristiwanya terjadi tadi sekitar tiga menit yang lalu dan hingga sekarang entah kenapa sulit sekali untuk dilupakan.

Saya ditolak cewek itulah intinya. Sebut saja namanya Bunga. Itu hanya nama samaran, kayak korban-korban pelecehan di koran. Sebab kalau saya tulis nama aslinya Kinyandri Agnesia begitu, saya takut kena pasal pencemaran nama baik.



Dia baru sebulan pulang kampung sehabis lulus kedokteran di New Yogyakarta. Kebetulan kami tinggal sekampung. Dulu saya dan dia juga sekolah di SMA yang sama. Dia cerdas menurut saya. Saya juga cerdas, juga menurut saya.

Kami kerap mengharumkan nama sekolah. Dia sering memenangi cerdas cermat, lomba pidato, kejuaraan bulu tangkis, turnamen karambol dan juga pernah menjadi paskibra tingkat kecamatan Kampar Kiri. Sementara saya, mengharumkan nama sekolah dengan cara yang berbeda, yaitu nyemprotin parfum ke papan nama sekolah. Haha!

Setelah tamat SMA, Bunga melanjutkan pendidikan ke Indonesia mengambil jurusan kedokteran, sementara saya tetap di Pekanbaru kuliah ambil jurusan sastra mesin.

Bunga memang cantik, sehingga tidak malu-maluin kalau cuma buat digandeng ke mall apalagi ke kondangan sunatan. Kulitnya putih, rambutnya hitam, lubang hidungnya dua. Body-nya juga bagus seperti gitar-gitar dari negara-nya David De Gea, kiper PSPS. Udah begitu punya bokap yang tajir masuk daftar 547 orang terkaya sekampung. Sawahnya luas sapinya banyak mobilnya delapan istrinya dua. Bayangin deh!

Begitu Bunga sudah balik dari Jogja, cowok-cowok kampung langsung sibuk merenovasi diri buat modal mendekati Bunga. Pun saya, walau dengan modal yang tak seberapa pantas untuk dibanggakan, tetap tidak mau kalah. Maju terus pantang malu. Jaman penjajahan aja, para pahlawan cuma bermodal bambu yang diruncingin, tidak gentar melawan kompeni yang pake bedil. Itu yang menginspirasi saya.

Singkat cerita, setelah kemarin-kemarin pedekate alakadarnya, tadi saya langsung nembak Bunga. Simpel aja. Tidak pake pistol, tidak dengan cincin atau seiket kembang, tidak didahului pembacaan puisi, dan juga tidak disiarin langsung di tipi. Lokasinya pun amat sangat simpel: di sebelah kandang sapi! Bukan di restoran mewah bercahayakan lilin kecil apalagi di kapal pesiar.

"Bunga, IPK kamu berapa. Kok pinter banget bikin aku kangen," saya memulai pembukaan acara katakan cinta.

Bunga cuma tersenyum. Sambil mengelap keringat di wajah dan lehernya pake serbet wajan.

"Gemesin banget deh leher jenjang kamu, Bunga. Mau ga kusembelih?"

Bunga sedikit mendelik. "Ihh apaan sih! Ya enggaklah!"

"Disembelih ga mau. Mm... Tapi kalau jadi pacarku mau kan?"

Peluru sudah ditembakan. Target tampak melongo dongo. Dalam hati saya berdoa semoga peluru cinta saya tadi tidak salah sasaran mengenai sapi.

"Aku cinta sama kamu, Bung..

Peluru kedua. Untuk sesaat Bunga tampak terhenyak. Mulutnya bergerak-gerak seperti mau ngomong sesuatu tapi sulit untuk diungkapkan. Mungkin dia syok, seumur hidupnya tidak pernah menyangka bakal ditembak oleh lelaki terganteng di seantero desa ini.

"Ka... Kamu serius?" Tanya Bunga dengan suara terbatu-bata.

"Serius..."

"Serius banget apa serius aja?"

"Serius banget!"

"Serius banget nget nget nget?!"

"Iya Bunga. Banget parah sumpah!"

Bunga manggut-manggut. "Baiklah. Kalau emang bener-bener serius. Emm... kita ke kamar yuk? Kamar aku."

"Hah! Ngapain?!"

"Aku mau tunjukin sesuatu, ihihihi...

Tanpa permisi Bunga langsung meraih tangan saya dengan mesra. Owh... Indahnya dunia. Rumput-rumput seakan menjadi bunga. Kandang sapi bagaikan istana.

Bunga mengandeng tangan saya, dibawanya pergi menjauh dari istana eh kandang sapi, menuju rumahnya.

"Kita langsung ke atas ya? Kamarku di lantai 3," kata Bunga tersenyum sedikit genit. 

"Beneran ke kamar nih?" tanya saya deg-degan. Saya merasa sebentar lagi keperjakaan saya bakal terenggut.

Bunga tersenyum dan terus menggandeng saya naik. Sampai di lantai 3, Bunga membukakan pintu kamarnya untuk saya. Kreekk..

"Silahkan masuk... " kata Bunga dengan senyum manisnya. Kemudian Bunga duduk di tepi ranjang.

Suer! Saya masih belum sepenuhnya percaya bisa berduaan sama Bunga, di kamarnya yang wangi, dengan ranjang yang bagus bersih dan pasti empuk itu. Saya cubit-cubitin pipinya Bunga. Dia merasakan kesakitan. Berarti ini bukan mimpi?!! Ini kenyataan yang harus saya terima!

"Emm... Udah di kamar nih, trus..." kata saya malu-malu kucing garong, makin deg-degan. Dalam benak udah tergambar adegan aril luna maya.

"Zuk, coba kamu ke lemari itu deh bentar..."

"Emang ada apa?" tanya saya sedikit bingung.

"Pokoknya ke sana. Bentar aja."

"Baiklah..." jawab saya sambil OTW menuju lemari.

Bunga tersenyum.

"Udah di depan lemari nih. Aku harus gimana?" tanya saya.

Bunga menarik napas dalam-dalam. "Jadi gini, di lemari itu kan ada cerminnya ya kan? Nah, seharusnya sebelum nembak gue, lo tuh bercermin dulu!! Lo tuh siapa?! Ngaca woey! NGACA!!" *banting beha*

???

******

6 comments:

  1. Hem ijin nyimaks ya gan! Bagus nih ceritanya!

    ReplyDelete
  2. Si bunga biasanya di tipi tipi jadi korban ini malah jadi tersangka.. eh bukan.. menjatuhkan korban.. #eeh..

    Gokil banget ceritanya.. bunga di tepi ranjang, ujung ujungnya cuma banting beha.. Hahaha

    ReplyDelete
  3. Bunga menarik napas dalam-dalam. "Jadi gini, di lemari itu kan ada cerminnya ya kan? Nah, seharusnya sebelum nembak gue, lo tuh bercermin dulu!! Lo tuh siapa?! Ngaca woey! NGACA!!" *banting beha* hahahaha, lucu lucu mas

    ReplyDelete
  4. hahahahhahahaha. narik nafas akhir ceritanya. heheheh
    untuk bukan cermin di kandang sapi

    ReplyDelete
  5. Wah emang abang sebelumnya lupa berkaca dari rumah ya ? :)
    Kok sampai disuruh berkaca di kostnya Agnesia eist salahm Bunga .

    ReplyDelete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)