Rumahmu



Sayang, katakan pada mereka. Yakinkan kepada mereka bahwa aku tidak sekampungan mantan kekasihmu yang lalu. Aku diberi otak yang sungguh luar biasa oleh Tuhanku, sehingga aku berpikir. Betapa ruginya jika aku menunjukkan ketidaksenanganku kepada dia. Baik secara finansial, psikis, dan sosial. Sampaikan salamku pada wanita orang tuamu itu. Tanpa aku merebutmu, hatimu memang utuh milikku. Untuk apa aku mengotori hatiku dengan merusak hubungan kalian yang sejak awal memang telah rusak? Bukankah itu hanya membuang waktuku?

Sayang, beri tahu dia. Aku tidak ingin mengetahui apapun tentangnya. Apapun. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya membatasi apa yang seharusnya aku ketahui dan tidak. Jangankan menggangunya, bahkan siapa namanya pun aku tak tertarik untuk mengetahuinya. Aku tau, dia istimewa untuk orang tuamu. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting, bagimu, dia bukan apa-apa. Seperti yang sering kau katakan.

Sayang, jelaskan pada mereka. Dalam cerita selalu ada protagonis dan antagonis. Bukan aku yang merusak hubunganmu dengannya. Barangkali, dia yang merusak kebahagiaan kita. Karena sesungguhnya, kita pemain utamanya. Dia hanya figuran, yang mungkin sebentar lagi sudah tidak lagi ditampilkan. Saranku, nikmati saja perannya untuk saat ini. Untuk sekedar menambah seru suasana, mungkin.

Sayang, kau pun harus tau. Memang, aku sempat khawatir akan kehilangan hatimu yang mencintaiku. Namun, sekarang tidak ada yang perlu aku takutkan. Aku tidak takut akan kesalahanku kali ini, yakni mempertahankanmu. Aku juga tidak takut dengan ketidaksetujuan orang tua kita. Karena memiliki hatimu, sudah lebih dari benteng keberanian untukku. Kau mungkin tidak menentang pinta orang tuamu. Setidaknya kau tidak membohongi hatimu sendiri. Kau selalu mencintaiku.

Sayang, umumkan pada dunia. Hati kita tak kan berubah. Selama hati kita mempunyai tujuan yang sama. Aku selalu percaya Tuhan akan mengasihani kita. Tuhan hanya meminta kita bersabar, berdoa dan berusaha. Orang tuamu bisa apa jika Tuhan menginginkan kau denganku?? Bukankah hati bagian dari amanahNya? Hatiku, masih rumahmu. Tempatmu untuk pulang..

*****

Pengirim: KIKI

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)