Jumat, 05 Juni 2015

JEALOUSY Part 2




Episode Sebelumnya: Jealousy Part 1

Tanpa terasa ban mobil mereka telah menapaki halaman rumah kontrakan Andru. Mereka segera turun. Dan entah kebetulan atau apa, laki-laki separuh buaya yang kemarin, eh salah lagi, separuh baya maksudnya, hari ini ada lagi di sana. Juga seperti kemarin, kayak mau nyolong sangkar burung di depan rumah itu.

"Bapak yang punya rumah ini, ya?" tanya Kiny sebelum pria itu beranjak pergi.

"Eng… iya, iya."

"Andrunya ada, Pak?"

"Siapa Andru?"

"Lho bapak ini gimana? Andru yang nyewa rumah bapak ini?"

"Owh…dia, baru saja pergi dengan seorang wanita. Saya sih gak perlu tau siapa namanya, yang penting dia mau bayar uang kontrakan tepat waktu, gitu aja. Wassalam!"

Dasar pemilik rumah matre! Tapi siapa wanita yang katanya pergi sama Andru? Hati Ruce makin bertanya-tanya.

"Udah deh, aku ikhlasin aja buku itu jadi hak milik Andru. Capek. Tapi sekarang kalian harus temenin aku ke toko buku. Aku mau cari yang baru aja!" Linn berkata jengkel. Kunjungan sore ini lagi-lagi tanpa hasil.

Di saat ketiganya melangkah menuju mobil, tiba-tiba:

Cokelat! Cokelat! Cokelat!

Langkah mereka spontan terhenti demi mendengar burung beo itu menyebut tiga warna seperti kemarin.

"Mungkin dia minta cokelat. Laper kali itu burung?" kata Ruce.

"Bukan minta cokelat, tapi dia nyebutin warna daleman kita lagi. Kalian pasti pake warna cokelat kan?" Kiny memandang dua temannya. Ruce mengangguk. Linn masih belum bereaksi.

"Aku pakenya putih sih," jelas Linn ragu-ragu. Kiny dan Ruce sedikit lega. Berarti warna-warna yang disebut beo dari kemarin itu bukan warna dalaman mereka.

"Tapi... Karena udah udah usang emang jadi kecoklat-coklatan gitu," sambung Linn.

"Wuiiih! Dasar!"

"Iya! Dasar beo gak sopan! Yang bisa diomongin kok hal-hal sepentin ke atas," maki Linn. Hampir saja ia melepas sandalnya untuk menyambit sangkar beo itu. Tapi gak jadi mengingat kridit sandal ini masih tiga bulan lagi lunasnya.

"Ayo deh cabut buruan. Ilfil gue sama beo mata keranjang sampah itu!" seru Ruce.

*****

Seperempat jam kemudian kendaraan mereka telah memasuki parkiran toko buku ternama. Dan dengan langkah-langkah meyakinkan kayak Charles Angels kesiangan, mereka memasuki toko dan segera menyebar. Linn mendatangi rak buku-buku hobi, mencari buku resep semur jengkol ala negerinya Kareena Kapor. Ruce mondar-mandir di bagian tennlit, mengamat-amati sambil berpikir; kapan ya nama gue bisa terpampang di cover-cover novel seperti itu? Sementara Kiny sok serius membaca sebuah buku yang berukuran segede laptop, biar sekitarnya tahu bahwa ia cewek manis yang gemar membaca.

"Kiny, kita pulang aja yuk," ajak Linn yang tahu-tahu sudah berada di samping Kiny.

"Emang udah dapet bukunya?" tanya Kiny sambil mengembalikan buku yang tadi dipelototinya. Tangannya dihentak-hentakan. Pegel juga megang buku yang beratnya saja bisa membuat tiga kucing garong klenger sekaligus kalau ditimpukan itu.

"Nggak ada. Kata bagian informasi, buku itu udah nggak cetak ulang, aku malah disodorin buku resep tumis genjer ala Honggaria. Gak minat aku," jelas Linn.

Dari cengkok bicaranya, Kiny tahu kalau Linn sangat kecewa. "Ya udah yuk. Tapi Ruce mane?"

Linn celingukan. "Meneguetehe!"

Kiny juga turut celingukan. Setelah dicari kesana kemari sebentar, mereka menjumpai Ruce sedang berlindung dibalik rak buku-buku pertanian. Wajahnya tampak aneh. Kayak orang menahan pipis yang hampir bobol.

"Kamu kenapa, Ce?" tanya Kiny heran.

Ruce tak menjawab. Ia memandang Kiny dan Linn dengan tatapan minta pertolongan. Kemudian jari telunjuknya menunjuk ke arah depan. Mata Kiny dan Linn mengikuti arah telunjuk tangan Ruce.

"Andru?!" Kiny kaget.

"Sama siapa dia?!" Linn juga.

Hanya beberapa tombak di depan mereka, terlihat Andru sedang tertawa ceria sambil memilih-milih buku dengan seorang cewek. Disebut cewek sepertinya terlalu terhormat. Lebih tepatnya tante-tante, mungkin umurnya tiga kali lipat usia Andru. Itu rupanya penyebab Ruce bersembunyi.

Dan sekarang tampak tante berdandan menor tebel make up itu menggandeng tangan Andru menuju bagian rak-rak komik.

"Ayo kita pulang. Gue gak tahan ngeliat mereka," Ruce setengah terisak.

*****

Episode Selanjutnya: Jealousy Part 2

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)
EmoticonEmoticon