JEALOUSY Part 3



Sebelumnya: Jealousy Part 2

Jam isrirahat Ruce berniat menemui Andru dengan membawa sejuta pertanyaan. Diantaranya; kenapa buku resep semur jengkol milik Linn belum juga dikembalikan? Ada apa kemarin nggak sekolah? Siapa wanita di toko buku kemarin? Dan sembilan ribu sembilan ratus sembilanpuluh tujuh pertanyaan lainnya. Semuanya harus terjawab!

Tapi langkahnya langsung memelan dan terhenti. Telinganya menangkap obrolan-obrolan yang kian menghancur lebur luluh lantakan hatinya.

"Hape baru, model rambut baru, sepatu juga baru. Makin keren aja lo sekarang, Ndru!" puji Ro'in, teman sekelas Andru.

Terlihat Andru dengan senyum bangga mengelus-elus ponsel android mahal keluaran terbaru yang baru dibelinya kemarin.

 "Asal lo tau, kaos kaki gue juga baru nih," dan dengan tindakan norak 24 karat, Andru mencopot sepatunya memamerkan kaos kakinya yang bergambar tikus berdasi.

"Singlet juga baru," masih dengan kenorakan yang tidak kurang dari 24 karat, Andru melepas kancing bajunya, menunjukan label harga yang masih tertempel di singletnya.

"Lo akan gue traktir apapun yang lo mau hari ini!" Andru mengeluarkan dompet, memperlihatkan berlembar-lembar duit kertas bergambar Soekarno-Hatta.

"Wah... Sekarang lo ceria banget. Kemarin-kemarin lo gelisah gitu takut ditagih utang sama pak Kepsek, Ibu kantin, bendahara kelas, penjaga warnet, tukang parkir, ibu kost, pacar lo, penjual sate, petugas loundry, pem….

"Sttt…. Itu masa lalu, Bro! Mulai hari ini gue akan selalu ceria. Apalagi sejak kedatangan Tiwi ke kosan gue, suasana semakin ceria. Gue jadi punya temen ngobrol. Dan lo tau, suara Tiwi seksi banget, pagi-pagi udah manggilin nama gue, nyanyi buat gue. Pokoknya sejak gue tinggal serumah sama Tiwi, gue nggak pernah ngerasa kesepian lagi, sampai-sampai gue lupa sama pacar gue …

Ruce tak sanggup lagi mengikuti kelanjutan obrolan mereka. Ia balik kanan dan berlari menuju belakang lab. Di sana ia menangis sepuasnya. Ruce tak akan terlalu sakit hati kalau selingkuhan Andru itu seumuran dengannya. Ini dengan tante-tante. Mana udah tinggal serumah lagi. Kesannya Andru kayak cowok matre murahan pinggir jalan.

"Udah kita duga kamu di sini! Andru nyari-nyari kamu tuh, Ce?" kata Kiny, yang tiba-tiba sudah ada di sana bersama Linn.

"Biarin! Paling-paling dia mo mutusin gue, huaaa...." Ruce makin semangat nangisnya. Arimatanya keluar makin deras. Kemudian ia menceritakan semua yang didengarnya barusan kepada Kiny dan Linn.

"Oh jadi nama perempuan itu Tiwi?" gumam Kiny.

"Iya."

"Ce, tapi kan kita tuh belum tahu pasti siapa perempuan itu, kenapa kamu udah nangis-nangis gini? Siapa tahu itu mamanya Andru?" bujuk Linn mencoba berpikir positif.

"Mana mungkin. Mamanya di luar negri!" bantah Ruce.

"Yahh kamu, kalau udah cemburu bawaannya negatip tingking aja. Udah ah jangan nangis. Nih hapus airmatamu," sambung Linn sambil memberikan tipe x.

"Menurut gue, karena lagi ngalamin krisis keuangan, dia manfaatin kegantengannya untuk untuk nyari tante-tante nakal yang deman brondong, yang mau membiayai kehidupan dia!" tuduh Ruce kian tak semena-mena.

"Mungkin juga sih, liat aja Andru sekarang. Pamer hape ke mana-mana, jalannya jadi gaya gitu mentang-mentang mengendarai sepatu baru. Agak sombong juga dia sekarang," Kiny coba memberi dukungan.

"Gini aja, ntar sore kita ke kontrakan dia lagi. Tadi aku udah bilang kalau aku mau ke sana, ngambil buku. Sekalian kita bikin penyelidikan siapa cewek itu? Kalo suudzon kamu bener, Ce. Rame-rame Andru kita habisin!" usul Linn.

Ruce mengangguk-angguk sambil menghapus air matanya pake tipe x.

"Sekalian kita ngerjain burung beo disana itu!" imbuh Kiny cepat.

"Maksudnya?" Linn gak ngerti.

"Kalian lupa di sana ada beo cabul yang suka ngintipin daleman kita? Nah nanti kita ke sana sekalian ngerjain beo itu!" jelas Kiny.

"Caranya gimana?" Ruce + Linn.

"Kita ke sana gak usah pake daleman. Langsung pake celana jeans aja. Biar beo lakhnat itu mampus terdiam gak bisa berkata sepatah kata!"

"Hahaha okey, okey! Aku emang empet banget sama burung itu!" Linn langsung setuju.

Ruce yang awalnya kurang berkenan akhirnya sepakat juga.

*****

Sorenya, langkah-langkah mereka terasa kurang nyaman. Rasanya ada yang kurang gara-gara tak memakai lapisan pertama, agak gimanaaa gitu. Tapi demi mengerjai si beo jahil, mereka ikhlas.

Hal pertama yang mereka jumpai masih seperti dua hari kemarin. Lelaki separuh baya, *hehe kali ini bener* yang kemarin mengaku pemilik rumah kontrakan ini. Kali ini lelaki itu telah menenteng sangkar burung beo tersebut. Entah akan dibawa ke mana.

"Andru ada, pak?" tanya Kiny.

Pria itu terlihat tidak suka dengan cewek-cewek itu. Tiap hari kok nyariin Andru mulu. Dia tak menjawab. Merengut dan siap-siap pergi.

"Heii…! Burung saya mau dibawa ke mana, maling lo ya?!" teriak Andru tiba-tiba hadir di situ entah pulang dari mana, berdua dengan wanita yang kemarin di toko buku.

Lelaki separuh buaya itu kaget! Pucat! Dan meletakan sangkar burung di tanah lalu kabur terbirit-birit. Berapa detik kemudian telah lenyap di tikungan.

Andru segera mendekati Linn Cs. "Untung ada kalian, kalau nggak beo gue ini pasti udah di curi sama laki-laki tadi. Pantesan beberapa hari ini dia sering mondar-mandir di sekitar kosan gue ini."

"Jadi dia bukan yang punya rumah ini?" tanya Linn.

Andru menggeleng. "Bukan banget."

"Padahal Kiny tadi sempet naksir dia loh," lanjut Linn.

"Kalau gini kejadiannya, biar aman sangkar Tiwi terpaksa gue taruh di dalam aja."

Hah?!! Sangkar Tiwi?!

"Jadi Tiwi tuh nama beo ini?" Kiny seperti tersadar dari mimpi buruk.

"Iyak. Namanya Tiwi, lengkapnya Pertiwi. Eh, iya, sori banget, maap banget, buat Ruce tersayang. Sori kalau beberapa hari ini aku sulit dicari, abis aku lagi seneng. Mama jauh-jauh dari luar negri jenguk aku, beo inilah oleh-oleh dari mama. Katanya buat nemenin aku di kosan, hehe. Kenalin nih mama gue," kata Andru.

Perempuan yang dibilang mama oleh Andru itu tersenyum. Kiny terbelalak. Ruce pucat merasa sangat berdosa. Sementara Linn kayak mau pingsan.

Sementara kegaduhan lain terjadi di dalam sangkar si beo. Mahluk itu terlihat terbang salah tingkah bermanuver di dalam kandangnya, bingung kayak burung stress, kadang memiringkan kepalanya, matanya menatap ke arah tiga diva dengan tatapan aneh.

Sesaat kemudian berkicau:

Lurus! Lurus! Keriting!

"Hah! Maksud lo?!!" seru Kiny dan Ruce berbarengan melotot keki ke arah si beo. Linn bener-bener pingsan!

Tamat Deh!

*****

Fiksi seru lainnya: Segi Tiga Beda Sisi
ZUCKICI.COM - Bacaan Santai Saat Serius.

29 comments:

  1. Haha, gara-gara salah dugaan jadi kayak gitu deh jadinya, malu sendiri :D :D

    ReplyDelete
  2. lucu ya mas ceritanya, kudu harus ikut cerita dari awal ni, salam kenal ya :D

    ReplyDelete
  3. waduh ketinggalan cerita nih gue. ikut nyimak aja deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting bukan ketinggalan kerete, Bro...

      Delete
  4. kayanya seru kalo baca dari jealous part 2 nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, saya sudah baca lho, mbak kapan bacanya :D

      Delete
  5. Pasti rasanya esis jika tanpa daleman ya ?

    ReplyDelete
  6. wkwkwk jadi tiwi itu si beo yah hahahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya beo, wkwkwkwk. Eh tapi kok malah ketawa bebek ya.

      Delete
  7. iiiihh kirain tiwi yg duet ama tika ...T2.
    jealousy when will you let go .... ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beughh... Masih ingat aja sama AFI, Mbah. Mhehehe...

      Delete
  8. Wahhh ada juga ya resep semur jengkol wkwkwkw ,

    Maaf ya baru berkunjung . Salam kenal ya gan :)

    ReplyDelete
  9. Hahaha sampe ke singlet-singlet aja pada baru :D

    ReplyDelete
  10. hahaha kangen sama karya bang juki,,,kenapa sekarang gx pernah update di FP bang???

    nitip ye bang,,RDP premiun gratis
    http://mugimusik.blogspot.com/

    ReplyDelete

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)