Kisah Sedih Seorang Jomblo!


Sebuah kisah konyol yang sebenarnya nggak penting banget buat diceritain apalagi dicontoh. Tapi lumayanlah kalau sekedar buat lucu-lucuan dan hiburan di tengah kesemrawutan hidup yang terkadang bikin kepala serasa mau belah. Nah cerita lucu, bisa membuat pikiran kembali fresh. Selamat mencoba.

HIKS!

Yaelah...

Tahu-tahu sudah mau pemilu lagi. Itu berarti secara resmi gue sudah jomblo lima pemilu. Entahlah... Gue sendiri heran dan nggak mengerti, harus memakai metode apa lagi biar kutukan jomblo ini segera berakhir.


Pernah pada suatu sore yang belum malam, gue keliling kampung dibonceng Jabon. Naiknya motor RX King. Di saat itulah, di tepi jalan kami melihat seorang wanita sedang menangis memegangi kakinya.

"Aduh, Mbak, kenapa kakinya?" Jabon bertanya penuh kekuatiran.

"Kaki saya keseleo, Mas," jawab si Mbak sambil merintih memegangi kakinya. "Ughh... Sakit, Mas, sakit banget..."

"Iya, Mbak. Sabar ya, Mbak..." Jabon berusaha nenangin, sambil membantu mengusap-usap kakinya si Mbak. "Mbak rumahnya di mana deh, biar saya anterin pulang..."

"Terima kasih, Mas. Rumah saya di RT 1019."

Buset! Di daerah mana tuh RT 1019?

Selanjutnya Jabon nganterin Mbak itu pulang. Gue terpaksa pulang numpang truk batubara.

Dua minggu kemudian, gue baca berita di mading balai desa, Jabon sudah resmi jadian sama Mbak yang ditolongnya itu. Huft! Bisa banget Jabon dapet pacar.

"Makanya, Zuck. Kalau mau dapet perhatian cewek, lo harus rela membantunya apa saja," pamer Jabon.

"Gitu, ya, Bon?"

"Yo'i."

"Baiklah!"

Di suatu sore yang lain, gue jalan keliling kampung sendirian, dan kebetulan gue melihat seorang wanita menangis di pinggir jalan. Gue berpikir, inilah bagian gue.

"Kaki sebelah mana yang keseleo, Mbak. Biar saya pijitin trus nanti saya antar pulang," tanya gue penuh semangat.

"Saya nangis karena baru diputusin pacar tau!"

"Oh. Kok nggak keseleo sih? Keseleo dong plis..."

Gue kecewa ternyata kaki si Mbak nggak kenapa-napa.

"Jangan ganggu saya, saya pengen sendiriiiii...." si Mbak nangis makin kejer.

Tapi gue nggak boleh menyerah. Gue harus bisa membantu Mbak ini keluar dari kegalauan.

"Tidak perlu ditangisin dong, Mbak. Cuma diputusin ini. Harusnya Mbak gembira, karena dengan begitu Mbak bisa dapat pengganti yang lebih ganteng, kayak saya."

Si Mbak memandang gue dengan tatapan tidak respek. "Tampang kayak stiker caleg gitu ganteng apaan?!"

"Hahaha. Mbak juga kayak caleg dari partai final," canda gue garing.

"Kita memang kayak caleg. Saya Cantik. Situ jeLeg!"

"Tapi Mbak i love you kan sama saya?" fitnah gue, dengan sosoan memakai bahasa Inggris.

"GO TO HELL!!" jawab si Mbak ketus.

"Hell is too far, Mbak. Mending let's go to my bed."

Si Mbak melototin gue, lalu mengangkat tangannya tinggi dengan telapak tangan kebuka. Nggak tau deh apa maksudnya, entah mau nampar gue atau mau berdada-dada sama awan sore.

Tapi kemudian tangan itu diturunkan lagi, kemudian dipakainya untuk mengelus-elus dada sambil bergumam: "Sabar, sabar...."

Gue teringat kata-kata mutiara Jabon, 'kalau mau dapet perhatian cewek, lo harus rela membantunya'.

Baiklah!

"Iya, Mbak. Yang sabar yah, Mbak," hibur gue sambil ikut mengusap-ngusap dada si mbak, berusaha membantu meringankan nyesek di dadanya.

Tapi tak sangka apalagi dinyana:

"B*AD*B LO!!" teriak si Mbak menggelegar, kemudian enyah meninggalkan gue setelah sebelumnya memberi bunyi PLAKKK!! di pipi kanan gue.


Hiks. Lagi-lagi gue gagal dapat pacar, malah dapat gampar!

Baca Juga: (Komedi Cinta: Bunga Di Tepi Ranjang)
 

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan tertib dan sopan sesuai dengan adat istiadat yang berlaku. :)